Pagi buta Membawa Duka Longsor Cisarua KBB (IST.)
Pagi buta Membawa Duka Longsor Cisarua KBB (IST.)
Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)
(Ketua
Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode: 1980-1982)
Cisarua
menuai duka
Daging
tubuhnya menganga dihias luka
Derasnya
hujan membawa petaka
Alam
sedang murka kata mereka
Sulitnya
mengaku peristiwa itu ulah manusia
Menilai
hutan dan segala isinya hanya sumber harta
Tebing dan
bukit indah sekadar bermakna panorama
Manusia
lupa bahwa ia penjaga keselamatan kita
Air hujan
menggerojog dari atas tak dapat ditahan
Semua yang
di bawah disiram dengan merata
Berlari
hanya sia-sia, seolah tak bermakna
Berucap
doapun mereka lupa
Teriakan
korban tak sempat menggema
Tangisannya
hanya bersuara sementara
Semua
tenggelam dalam pusara
Tinggalkan
keluarga yang masih di desa
Ratusan
orang berdiri di tepi jalan
Matanya
mengarah pada tumpukan tanah basah yang menggunung
Doa
dipanjatkan, shalawat dikumandangkan
Berharap
tak ada korban barang seorang
Banyak
yang tak menyangka saat mendengar berita
Puluhan nyawa
tak dapat diselamatkan walau sedetik
Menambah
panjang masa kita untuk berduka dan berkabung
Orang
saling berbantah dan mencari siapa yang bersalah
Alam
mempunyai kemampuan dan daya tahan yang terbatas
Ia ingin
hidup seimbang dan alami tanpa diganggu manusia
Biarkan
pucuk Pinus terus menjulang mencapai awan
Bebaskan
rantingnya melebar kemana ia mau
Pahami
alam seperti alam memahami kita
Lindungi
alam seperti alam melindungi kita
Jagalah
alam seperti alam menjaga kita
Cisarua
berhentilah berduka, kami akan merawatmu
(Jakarta,
27 Januari 2026)