1778468980-1200x675

Kontroversi LCC 4 Pilar Kalimantan Barat. (Tangkapan Layar/Instagram @smansaptk.informasi)

(Oleh: M. Hermayani Putera)

Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar (LCC 4 Pilar) sebenarnya bukan program baru. Kegiatan ini sudah cukup lama menjadi bagian dari program sosialisasi 4 Pilar yang dijalankan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) untuk pelajar dan mahasiswa.

Empat pilar yang dimaksud tentu sudah sering kita dengar ya. Ada Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, lalu UUD 1945 sebagai konstitusi negara, kemudian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan yang terakhir Bhinneka Tunggal Ika sebagai komitmen bersama merawat persatuan dalam keberagaman. Tujuannya baik, agar generasi muda lebih mengenal dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tapi mungkin baru tahun 2026 ini LCC 4 Pilar benar-benar ramai dibicarakan publik. Penyebabnya bukan karena soal-soalnya sulit, misalnya soal apakah koruptor pantas dihukum mati, melainkan karena polemik penilaian di babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Dua tim finalis, yakni SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, memberikan jawaban yang pada intinya sama. Tetapi hasil penilaiannya berbeda. Tim SMAN 1 Pontianak diganjar minus 5 karena dinilai kurang artikulatif oleh dewan juri, dan sebaliknya tim SMAN 1 Sambas mendapat poin 10. Dari situlah perdebatan melebar ke mana-mana.

Saya kira wajar kalau pihak yang merasa dirugikan, dalam hal ini tim SMAN 1 Pontianak, mempertanyakan keputusan juri. Dan ini sudah dilakukan oleh mereka. Dalam kompetisi, rasa adil memang penting. Apalagi ini final, membawa nama sekolah, dan perjuangan anak-anak yang pasti tidak sebentar.

Tetapi makin lama saya membaca komentar di media sosial, saya justru merasa yang paling panas bukan anak-anaknya. Yang paling emosional malah orang-orang dewasa di sekitarnya.

Ada yang membela sekolahnya mati-matian. Ada juga yang menyerang juri. Ada pula yang saling sindir antaralumni. Ada pula yang mulai membawa ego daerah dan hal-hal di luar substansi lomba. Sebagian sudah out of context, bahkan ibarat pertandingan sepakbola, cenderung off-side. 

Jangan-jangan anak-anak ini sebenarnya lebih dewasa daripada kita.

Karena bisa saja para peserta lomba itu sendiri sebenarnya mampu menerima keadaan dengan lebih tenang. Dan mereka ingin menyampaikan keberatan dengan baik-baik, mendengar penjelasan, lalu selesai. Tetapi ruang itu keburu sesak dipenuhi suara orang dewasa.

Padahal momen seperti ini justru bagian penting dari proses belajar.

Cerdas cermat bukan cuma soal siapa paling cepat menjawab atau siapa paling banyak hafal materi. Ada hal lain yang seharusnya ikut tumbuh di sana: belajar menerima perbedaan pendapat, menyampaikan protes dengan cara yang baik, menghormati lawan, serta belajar menyelesaikan persoalan secara elegan tanpa harus saling menjatuhkan. Dan selesai itu mereka bisa ngopi bareng. 

Kalau setiap persoalan anak langsung diambil alih orang tua, alumni, pejabat, atau warganet, kapan mereka punya kesempatan menghadapi persoalannya sendiri?

Kita sering bicara tentang pentingnya membangun karakter generasi muda. Tapi kadang tanpa sadar, kita justru terlalu cepat masuk dan mengambil alih kemudi, bahkan dalam persoalan yang sebenarnya masih bisa mereka selesaikan sendiri.

Saya coba melihat ada pelajaran yang lebih besar dan berharga dari kejadian ini.

Viralnya polemik LCC 4 Pilar ini muncul di tengah situasi ketika kritik terhadap penyelenggaraan negara memang sedang menguat dari berbagai arah. Masyarakat hari ini semakin sensitif terhadap rasa ketidakadilan, inkonsistensi, dan keputusan-keputusan yang dianggap tidak transparan. Dan itu kita saksikan dan alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, persoalan kecil pun bisa cepat membesar ketika publik merasa ada perlakuan yang tidak setara.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai semakin berani mengoreksi lembaga negara. Dan itu sebenarnya penanda sehat dalam kehidupan demokrasi.

Institusi negara bukan sesuatu yang sakral dan tak boleh dikritik. Ia bisa keliru. Pejabat bisa salah mengambil keputusan. Dan dalam konteks LCC 4 Pilar ini, tim juri pun bisa salah menilai dan memutuskan. Yang terpenting bukan bagaimana terlihat selalu benar, tetapi bagaimana berani terbuka menerima kritik dan bersedia meluruskan jika memang ada yang keliru.

Respons penyelenggara dari MPR RI yang akhirnya mengakui adanya kekeliruan penilaian patut kita apresiasi, karena berani mengakui kesalahan itu sendiri dan minta maaf secara terbuka, dan akan memperbaiki diri ke depannya.

Anak-anak yang mengikuti lomba ini sedang belajar sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar menghafal materi 4 Pilar atau memenangkan lomba. Mereka sedang belajar bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kejujuran, keterbukaan, dan keberanian mengoreksi diri adalah bagian penting dari budi pekerti berdemokrasi.

Bukankah selama ini kita justru terlalu sering menyaksikan banyak pihak lebih sibuk mempertahankan gengsi, menunjukkan arogansi sebagai penguasa atau pejabat, daripada mengakui kekeliruan?

Kejadian ini bisa menjadi reminder bersama bahwa nilai-nilai kebangsaan tak boleh berhenti dan selesai di ruang lomba atau teks pidato. Nilainya harus terus hidup dan dipraktikkan dalam sikap sehari-hari, terutama saat menghadapi kritik, perbedaan, dan kesalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dan mungkin, di tengah semua keributan ini, justru anak-anak peserta lomba sedang mengajari kita tentang kedewasaan.

Pontianak, 12 Mei 2026

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *