WhatsApp Image 2026-02-15 at 10.27.47

(Oleh : Mei Purwowidodo)

Pontianak bukan sekedar titik di peta khatulistiwa. Ia adalah rumah kita bersama—tempat harapan ditanam, kerja keras disemai, dan masa depan disiapkan. Kita patut bersyukur, dalam beberapa dekade terakhir kota ini dipimpin oleh para wali kota yang mampu membawa Pontianak melesat maju, setara dengan ibu kota provinsi lain di Indonesia.

Perubahan itu terasa lebih nyata.

Wajah kota semakin tertata, orientasinya kian jelas sebagai kota perdagangan dan jasa.

Lingkungan mulai diarahkan agar ramah, ruang-ruang publik dibuka agar indah dipandang dan nyaman untuk berinteraksi.Pontianak pelan-pelan dibentuk menjadi kota yang bukan hanya layak huni, tetapi juga membanggakan.

Namun pembangunan fisik hanyalah satu sisi. Sisi lainnya adalah kesadaran kolektif warganya.

Keamanan, kebersihan, dan ruang terbuka hijau bukan semata tanggung jawab pemerintah.

Ia hidup dari kepedulian kita sehari-hari—dari tidak membuang sampah sembarangan, dari saling menjaga ketertiban, dari merawat taman dan fasilitas umum seperti milik sendiri. 

Tanpa rasa aman dan rasa memiliki, apa yang sudah dibangun dengan susah payah bisa terasa sia-sia.

Dan tentu itu bukan yang kita inginkan.

Pontianak juga berdiri di atas keberagaman. Berbagai suku, agama, dan budaya hidup berdampingan. Momentum seperti Imlek, Cap Go Meh, bahkan ketika beriringan dengan Ramadan, justru menjadi cermin kedewasaan kita dalam merawat toleransi.

Jika dikelola dengan saling menghormati, keberagaman ini menjadi kekuatan—menjadi daya tarik yang membuat orang rindu berkunjung, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, apalagi kini akses penerbangan internasional semakin terbuka.

Tentu, kekurangan masih ada. Kepadatan lalu lintas, genangan saat hujan deras berbarengan dengan pasang air, menjadi pekerjaan rumah bersama.

Tetapi setiap kota besar melewati fase itu. Dengan perencanaan yang berkelanjutan dan partisipasi warga, pelan-pelan semua akan menemukan jalan keluarnya.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: jika bukan kita yang merawat kota ini, lalu siapa lagi?

Merawat Pontianak berarti merawat masa depan anak-anak kita. Menjaganya tetap aman, bersih, rukun, dan berdaya saing.

Kota ini sudah memberi banyak pada kita. Kini saatnya kita memberi kembali—dengan kepedulian, dengan keteladanan, dan dengan rasa memiliki yang utuh.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *