WhatsAppImage2026-02-14at21.16.01

Podcast FORMAJAKON Kalimantan Barat “Mat Jalagor Is Back”

Pontianak – Forum Masyarakat Jasa Konstruksi (FORMAJAKON) Kalimantan Barat kembali menggelar podcast edisi kedua bertajuk “Mat Jalagor Is Back” dengan mengangkat tema hangat tentang gentengnisasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada 14 Februari 2026 di Aming Hutan Kota, Pontianak.

Isu gentengnisasi mencuat setelah diwacanakan oleh Prabowo Subianto dan memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat. Wacana tersebut tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknis penggunaan material atap dalam pembangunan, tetapi juga berkembang menjadi perspektif yang menyentuh cara pandang pelaku konstruksi, pemerintah, dan masyarakat dalam memaknai arah serta esensi pembangunan nasional.

Di Kalimantan Barat, diskursus ini semakin hangat dengan gagasan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, terkait pemanfaatan limbah—salah satunya limbah bauksit—sebagai bahan material genteng. Gagasan ini membuka ruang dialog lintas sektor, terutama menyangkut aspek teknis, lingkungan, dan keberlanjutan.

Podcast kali ini menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya, yakni Ir. Sutarto Y.M, MM, MT; Dr. Ir. Zulkifli Mulki, DEA; dan Ir. Maulana Hasanudin, yang mengupas isu gentengnisasi dari sudut pandang konstruksi, lingkungan, dan arsitektur. Diskusi dipandu oleh Ir. Baskoro Efendy dalam suasana santai namun tetap substantif dan mendalam.

Perspektif Konstruksi

Dari aspek konstruksi, Sutarto menjelaskan bahwa penggunaan atap genteng pada bangunan gedung bukanlah hal baru di Kalimantan Barat dan secara teknis tidak sulit diterapkan.

Namun demikian, diperlukan rekayasa teknik untuk mengantisipasi beban genteng yang berkisar antara 40–70 kg/m², jauh lebih berat dibandingkan atap metal yang rata-rata sekitar 5 kg/m².

Perencanaan struktur yang matang menjadi kunci agar bangunan tetap aman, efisien, serta ekonomis dalam jangka panjang, termasuk dalam hal pemeliharaan.

Perspektif Lingkungan

Sementara itu, Zulkifli Mulki menyoroti aspek lingkungan, khususnya wacana penggunaan limbah bauksit yang tergolong limbah B3, sebagaimana limbah batubara yang juga sempat diwacanakan sebagai material bangunan. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan material tersebut harus dikaji secara komprehensif karena berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat.

Hal ini menjadi penting mengingat sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat masih mengandalkan air hujan sebagai sumber air minum.

Risiko kontaminasi harus diperhitungkan secara ilmiah sebelum implementasi kebijakan dilakukan.

Selain itu, apabila menggunakan tanah kaolin sebagai bahan baku, perlu dipertimbangkan aspek ketersediaan sumber daya alam untuk menjamin keberlanjutan industri genteng lokal. Ia juga menyoroti faktor curah hujan yang tinggi dan kondisi angin yang cukup kuat di Kalimantan Barat, sehingga sistem pemasangan dan pemeliharaan atap genteng memerlukan perhatian ekstra.

Perspektif Arsitektur

Dari perspektif arsitektur, Maulana Hasanudin menekankan pentingnya menghadirkan bangunan yang lebih manusiawi dan artistik melalui penggunaan atap genteng sebagai material lokal yang mampu merepresentasikan identitas arsitektur daerah.

Ia juga menyinggung semakin langkanya penggunaan atap sirap sebagai bagian dari warisan arsitektur lokal. Dalam konteks tersebut, genteng dapat menjadi alternatif yang tetap mencerminkan nilai budaya, estetika, serta adaptasi terhadap iklim tropis Kalimantan Barat.

Aspek Ekonomi Daerah

Diskusi turut menyinggung aspek ekonomi. Saat ini mulai banyak pemasok dari luar Kalimantan Barat yang memasarkan produk genteng non-lokal. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, semangat penguatan ekonomi kerakyatan berpotensi melemah.

Dampak lanjutannya, pengembangan industri lokal—mulai dari pembangunan pabrik, distribusi, hingga penyerapan tenaga kerja—tidak akan optimal. Efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi daerah pun berisiko tidak tercapai.

Penutup

Dalam penutup podcast, Baskoro Efendy menyimpulkan bahwa semangat penggunaan atap genteng sebagaimana disampaikan Presiden merupakan langkah positif untuk menggerakkan sektor ekonomi dan memanfaatkan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.

Namun demikian, kebijakan tersebut tetap harus dikaji secara menyeluruh dari berbagai sektor—konstruksi, lingkungan, arsitektur, dan ekonomi—agar implementasinya benar-benar memberikan manfaat yang aman, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat daerah.

Melalui podcast “Mat Jalagor Is Back” ini, FORMAJAKON Kalimantan Barat berharap dapat terus menghadirkan ruang diskusi yang konstruktif, kritis, dan solutif dalam menyikapi isu-isu strategis dunia jasa konstruksi, sekaligus mendorong kebijakan pembangunan daerah yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *