ChatGPTImage10Mei202611.22.1

Ekonomi Kalimantan Barat pada Triwulan I 2026 tumbuh 6,14 persen (yoy), tertinggi di Pulau Kalimantan dan melampaui rata-rata nasional. Angka ini menegaskan arah kebijakan pembangunan daerah oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan dan Wakil Gubernur, Krisantus Kurniawan yang bertumpu pada hilirisasi sumber daya alam, penguatan investasi, serta efisiensi logistik mulai menunjukkan hasil nyata.

Ria Norsan, menyebut capaian ini sebagai hasil nyata dari sinergi pemerintah, pelaku usaha, investor, dan masyarakat dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

“Pertumbuhan ini adalah hasil kerja bersama dalam mendorong investasi, hilirisasi industri, dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan kontribusi 49,22 persen terhadap struktur ekonomi. Momentum Ramadan, Idul Fitri, dan Imlek ikut menggerakkan perdagangan, transportasi, jasa, hingga UMKM, menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Dari sisi produksi, sektor pertambangan mencatat lonjakan pertumbuhan 34,14 persen. Kinerja ini diperkuat industri pengolahan bauksit dan alumina yang berkembang di Mempawah sebagai bagian dari strategi hilirisasi agar nilai tambah tidak keluar dari daerah.

Menurutnya, hilirisasi adalah kunci agar Kalbar tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah, tetapi mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan daerah.

Faktor strategis lain yang ditekankan adalah optimalisasi Pelabuhan Internasional Kijing. Keberadaan pelabuhan ini dinilai krusial untuk memangkas biaya logistik, memperlancar arus ekspor, serta menarik investasi dan pertumbuhan kawasan industri baru.

“Dengan Kijing yang semakin optimal, distribusi dan ekspor menjadi lebih efisien, daya saing meningkat, dan industri akan tumbuh lebih cepat,” jelasnya.

Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan menambahkan, selama ini banyak ekspor komoditas Kalbar tercatat melalui pelabuhan provinsi lain. Optimalisasi Kijing akan memperkuat pencatatan ekonomi dan dampak fiskal langsung bagi Kalbar.

Kontribusi Kalbar terhadap ekonomi regional Kalimantan tercatat 17,61 persen. Tren ini juga menunjukkan akselerasi dibanding Triwulan I 2025 sebesar 5,00 persen dan Triwulan IV 2025 sebesar 5,62 persen.

Pemprov Kalbar bersama Bank Indonesia terus menjaga stabilitas inflasi pada rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy) untuk memastikan daya beli masyarakat tetap kuat.

Ria Norsan juga menegaskan, pertumbuhan ekonomi ini harus berdampak langsung pada kesejahteraan melalui pemerataan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, UMKM, dan pertanian.

“Ini momentum baik bagi Kalbar. Pertumbuhan harus dirasakan masyarakat melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *