Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus memperkuat layanan kesehatan bagi lanjut usia (lansia) melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Lansia Mandiri. Program ini ditujukan agar masyarakat berusia 60 tahun ke atas tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri dan tidak bergantung penuh pada pendamping.
Program ini sejalan dengan tujuan pembangunan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan dalam meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat.
Pengelola Program Kesehatan Lansia Dinas Kesehatan Kalbar, Yuni mengatakan, program tersebut bertujuan menjaga lansia tetap aktif dan produktif meski telah memasuki usia lanjut.
“Jadi memang dengan adanya program ini kita menargetkan lansia yang sudah 60 tahun ke atas mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Nanti juga dilakukan screening kesehatan lansia,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar tahun 2025, jumlah lansia di Kalbar mencapai 567.964 orang. Dari jumlah tersebut, persentase lansia mandiri tercatat sebesar 66,86 persen.
Melalui program ini, lansia akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan gula darah, kolesterol, hingga asam urat. Selain itu, dilakukan pula skrining khusus menggunakan format SKILAS (Skrining Lansia Sederhana) untuk mengukur tingkat kemandirian lansia melalui penilaian ADL (Activity Daily Living).
Pelayanan tidak hanya dilakukan di puskesmas, tetapi juga melalui posyandu, pustu, serta Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer). Lansia dapat datang bersama keluarga ke fasilitas kesehatan, sementara bagi lansia dengan keterbatasan mobilitas, petugas kesehatan dan kader akan melakukan kunjungan rumah secara berkala.
“Program ini sebenarnya sudah berjalan lama, terutama dalam kaitannya dengan perawatan jangka panjang lansia. Kunjungan rumah dilakukan secara berkala, misalnya satu kali dalam sebulan. Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan berkoordinasi dengan kader dan caregiver atau pendamping lansia, baik dari anggota keluarga, relawan, maupun tenaga kesehatan itu sendiri,” jelas Yuni.
Ia menambahkan, kader maupun tenaga kesehatan yang telah mendapatkan orientasi dapat menggunakan format SKILAS dan ADL untuk menilai kondisi lansia di rumah. Lansia dengan tingkat ketergantungan tinggi atau yang tidak mampu datang ke fasilitas kesehatan akan menjadi prioritas kunjungan rumah oleh pihak puskesmas.
Selain itu, pada tahun ini pemerintah juga mulai menjalankan pelatihan bagi caregiver dan tenaga kesehatan pendamping lansia sebagai upaya memperkuat pelayanan kesehatan lansia di Kalbar.