(oleh: Al-Fakir)
Kadang hati tidak keras karena dosa besar, tapi sering menunda taubat untuk dosa kecil. Jangan tunggu semuanya terlambat.
Ketaatan tak lagi menarik, dosa tak lagi menakutkan. Bukan karena dunia ber ubah tapi karena hati yang mulai beku.
Ada masa dimana maksiat terasa ringan, dan ketaatan terasa berat. Itulah tanda hati sedang butuh diselamatkan.
Hati yang dulu mudah tersentuh, perlahan mulai kehilangan rasa. Bukan karena Allah jauh, tapi karena kita yang menjauh tanpa sadar.
Allah tidak menutup pintu-Nya, kitalah yang menutup hati dari cahaya-Nya. Setiap dosa yang diulang tanpa taubat adalah lapisan debu yang menutupi “nur iman.”
Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al- Muthaffifin ayat 14;
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Hati menjadi tertutup (berkarat) karena dosa yang terus dilakukan. Jika tidak disucikan dengan taubat dan dzikir, hati akan kehilangan cahaya iman.
Sabda Rasulullah SAW;
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, akan muncul titik hitam dihatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertaubat-,hatinya akan kembali bersih.
Namun jika ia mengulanginya, maka titik itu bertambah hingga menutupi seluruh hati.” (HR. Tirmidzi, hasan sholeh).
Dosa yang dibiarkan akan menghitamkan hati, hingga seseorang tak lagi peka terhadap kebaikan.
Jangan tunggu hati kita benar-benar keras baru ingin kembali. Karena semakin lama dibiarkan, semakin sulit rasanya merasakan manisnya iman.
Kembalilah walau hanya dengan langkah kecil.
Baca satu ayat, sujud satu raka’at, atau hanya sekedar berkata “Ya Allah, aku rindu pada-Mu.”
Hati yang hidup adalah hati yang masih bisa menyesal. Selama kita masih merasa bersalah, itu tanda Allah belum membiarkan kita jauh sepenuhnya.
Kalau hati kita sedang letih dan ingin kembali menemukan ketenangan yang hilang, mulai lah hari ini, dengan satu kalimat dzikir, satu istighfar, satu langkah menuju Allah.
Barakallahu fiikum aj’main
Sukamiskin,