(Oleh: Al-Fakir)
Kadang bukan tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah, tapi tentang siapa yang paling sadar- bahwa tenang itu bukan dari pembenaran melainkan dari kepasrahan.
Ada kalanya kita perlu berhenti, bukan karena lemah, tapi karena ingin menata ulang arah. Menata hati yang terlalu sibuk membuktikan diri dihadapan manusia.
Firman Allah (QS. Ar-Ra’ad, 28)
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa ketenangan hakiki tidak di dapat dari kemenangan duniawi, tetapi dari hati yang selalu ingat dan yakin pada Allah.
Kadang diam lebih menyembuhkan daripada seribu pembelaan.
Karena saat kita memilih tenang, kita sedang memilih Allah diatas ego.
Sabda Rasulullah SAW :
“Aku menjamin rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud, hasan shahih).
Maknanya, meninggalkan debat atau pertengkaran demi ketenangan dan ridha Allah adalah tanda kedewasaan iman, bukan kelemahan.
Kadang diam dan pergi bukan tanda kalah tapi cara lembut untuk berkata, “Aku butuh tenang, bukan pembenaran.”
Saat kita berhenti membela diri, Allah yang akan membela kita dengan cara yang jauh lebih lembut dan bermakna.
Tenang itu mahaldan hanya bisa dibeli dengan melepaskan hal-hal yang tidak lagi menuntun kita kepada Allah.
Behenti bukan berarti menyerah.
Tapi memilih jalan pulang- jalan menuju ketenangan.
Allah tak pernah berhenti menjaga, Allah tak pernah menutup pintu pulang, kita masih bisa bernafas, masih bisa sujud, itu bukti bahwa kasih sayang Allah tidak pernah pergi.
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl, 18)
Barakallahufikum aj’main.
Sukamiskin