WhatsAppImage2026-08-19at14.58.47

Foto: Riky Efendi

(Oleh: Riky Efendy/ Aktifis Swandiri Inisiatif Sintang)

Ada sesuatu yang terasa janggal ketika kita masuk ke kawasan Hutan Desa Lebak Najah.

Di satu sisi, hutan masih terlihat. Tetapi di sisi lain, jejak kerusakannya semakin mudah ditemukan: bukaan lahan, bekas pertambangan, sungai yang keruh, dan kawasan yang semakin gersang.

Kerusakan alam sering kali tidak datang sebagai satu peristiwa besar. Ia hadir perlahan, melalui lubang-lubang tambang yang ditinggalkan, hutan yang dibuka sedikit demi sedikit, dan lahan yang terus berubah fungsi. Sampai pada akhirnya, perubahan itu terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Musim kemarau menjadi pengingat yang paling nyata.

Sungai-sungai yang selama ini menjadi sumber air mulai mengering. Air yang tersisa menjadi keruh. Masyarakat bahkan harus memanfaatkan bekas kolam tambang untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai ruang yang rusak, perlahan berubah menjadi tempat untuk mencari air karena sumber air alami semakin terbatas.

Di sinilah kerusakan hutan berhenti menjadi isu tentang pohon.

Ia berubah menjadi persoalan tentang air, kesehatan, pangan, dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Di kawasan Hutan Lindung, tim menemukan bekas-bekas aktivitas pertambangan. Sebagian kawasan menjadi lebih gersang dan aliran sungai terlihat semakin keruh. Bahkan beberapa aktivitas tambang masih berlangsung.

Kita sering berbicara tentang tambang dari sisi ekonomi: berapa banyak emas yang bisa diambil, berapa banyak pendapatan yang dihasilkan, atau berapa banyak keluarga yang bergantung padanya.

Tetapi jarang kita bertanya:

Berapa banyak air yang hilang setelah hutan dibuka?

Berapa lama tanah yang rusak bisa pulih?

Dan siapa yang akan menanggung akibatnya ketika sumber air tidak lagi mampu menyediakan kebutuhan masyarakat?

Kerusakan ekologis tidak selalu langsung mengirimkan tagihan.

Tetapi suatu hari, tagihan itu datang dalam bentuk sungai yang mengering, air yang keruh, lahan yang sulit dipulihkan, dan masyarakat yang semakin sulit mendapatkan air bersih.

Kondisi kemarau juga memperlihatkan persoalan lain. Ketika hutan dan lahan semakin kering, aktivitas pembakaran ladang menjadi semakin berisiko. Api yang awalnya digunakan untuk membuka lahan dapat menjadi ancaman ketika kondisi lingkungan tidak lagi mampu menahan penyebarannya.

Ini menunjukkan bahwa satu persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri.

Hutan yang berkurang, sungai yang keruh, tambang yang meninggalkan lubang, kemarau panjang, dan risiko kebakaran adalah bagian dari rantai yang saling terhubung.

Karena itu, menjaga Hutan Desa tidak cukup hanya dengan memasang patok atau membuat aturan.

Kita perlu membicarakan kembali cara kita menggunakan ruang.

Hutan bukan ruang kosong yang menunggu untuk dibuka. Sungai bukan sekadar jalur air yang bisa menerima semua sisa aktivitas manusia. Dan tanah bukan sumber daya yang dapat terus diambil tanpa batas.

Apa yang terjadi di Lebak Najah seharusnya menjadi pertanyaan bersama:

Jika hari ini hutan kehilangan airnya, apa yang akan kita kehilangan besok?

Mungkin jawabannya bukan hanya hutan.

Mungkin yang sedang perlahan hilang adalah ruang hidup kita sendiri.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *