IMG-20260805-WA0024

Perempuan memiliki peran penting dalam aktivitas pertanian. Mereka terlibat dalam menanam, merawat, memanen, mengolah hingga menjual hasil pertanian. Namun, peran tersebut belum selalu terlihat dalam data maupun struktur kelompok tani.

Hal ini menjadi perhatian dalam pendataan perempuan petani di Desa Lubuk Antuk, Nanga Tepuai, Nanga Yen dan Gerayau. Pendataan bukan sekadar mencatat nama, tetapi untuk mengetahui siapa saja perempuan yang aktif bertani, apa yang mereka kerjakan, kapasitas yang dimiliki, serta sejauh mana mereka terlibat dalam kelompok tani dan pengambilan keputusan.

Selama ini, perempuan yang bekerja di sektor pertanian belum tentu tercatat sebagai anggota aktif kelompok tani. Akibatnya, kontribusi dan kebutuhan mereka bisa kurang terlihat dalam perencanaan program pertanian.

Perempuan bekerja di pertanian, tetapi belum tentu terlihat dalam data.

Kapasitas Kelompok Belum Merata

Pendataan juga menunjukkan pentingnya melihat kondisi kelompok tani. Tidak semua kelompok memiliki kapasitas pengelolaan yang sama.

Ada kelompok yang sudah memiliki administrasi dan kegiatan rutin, tetapi ada juga yang masih lemah dalam pencatatan anggota, perencanaan kegiatan, pengelolaan keuangan dan pengambilan keputusan. Perbedaan kapasitas ini berpengaruh terhadap kemampuan kelompok dalam mengakses program dan mengembangkan usaha.

Karena itu, penguatan kelompok tani tidak cukup hanya melalui bantuan sarana produksi. Kemampuan organisasi, administrasi, kepemimpinan dan pengelolaan usaha juga perlu diperkuat.

Perempuan Perlu Ruang untuk Menentukan

Persoalan lainnya adalah masih rendahnya keterlibatan perempuan dalam struktur kelompok tani dan pengambilan keputusan.

Perempuan mungkin aktif bekerja di lahan, tetapi belum tentu memiliki posisi dalam kepengurusan atau terlibat ketika kelompok menentukan rencana kegiatan, penggunaan bantuan, pemasaran hasil dan kerja sama dengan pihak lain.

Ada perbedaan antara ikut bekerja dan ikut menentukan.

Karena itu, keterlibatan perempuan tidak cukup diukur dari jumlah yang hadir dalam pertemuan. Yang lebih penting adalah apakah perempuan dapat menyampaikan pendapat, menjadi pengurus, memimpin kegiatan dan ikut menentukan keputusan kelompok.

Data Harus Menjadi Dasar Perubahan

Pendataan perempuan petani seharusnya tidak berhenti sebagai daftar nama. Data perlu digunakan untuk mengetahui kebutuhan pelatihan, potensi kepemimpinan, kapasitas kelompok dan peluang pengembangan usaha.

Dengan data yang lebih baik, program pemberdayaan perempuan dapat disusun sesuai kebutuhan nyata di lapangan.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan kapasitas perempuan, membangun kader perempuan petani, serta membuka ruang yang lebih besar bagi perempuan dalam struktur dan pengambilan keputusan kelompok.

Empat desa tersebut dapat menjadi ruang belajar untuk membangun kelompok tani yang lebih terbuka dan partisipatif.

Pada akhirnya, perempuan petani tidak hanya perlu dicatat dalam data, tetapi juga perlu didengar dalam keputusan.

Pendataan adalah langkah awal agar keberadaan perempuan terlihat. Penguatan kapasitas memberi mereka kemampuan, sedangkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan memastikan suara mereka benar-benar menjadi bagian dari masa depan pertanian desa

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *