Belajar dari Mentelong: Sawah dan Kelokak sebagai Konektivitas Ekologis
Di desa yang memiliki area persawahan di Kecamatan Hulu Gurung Seperti di Desa Nanga Yen hubungan antara sawah dan kebun warisan leluhur yang dalam bahasa lokal setempat dikenal sebagai kelokak merupakan wilayah berhutan yang dijaga secara turun-temurun, hubungan tersebut mencerminkan suatu sistem lanskap tradisional yang sarat nilai ekologis, sosial, dan budaya. Dalam konteks ini, unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri; masing-masing terjalin membentuk suatu kesatuan ekologis, sosial dan budaya sehingga menjadi penyangga kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur sejak generasi ke generasi. Masuknya program P3TGAI (Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi) pada beberapa tahun terakhir kemudian menjadi intervensi positif yang memperkuat relasi tersebut, bukan menggantikannya, tetapi menambah daya tahan sistem yang telah lama hidup dan bertumbuh.
Sawah bagi masyarakat Nanga Yen bukan sekadar ruang produksi, melainkan simbol keberlanjutan keluarga dan sumber ketahanan pangan utama atau dapat dikatakan sebagai ruang ketahanan pangan dan identitas sosial. Pola pengelolaan sawah tradisional sangat memanfaatkan ritme alam dengan mengikuti aliran air, musim, serta kondisi tanah yang dipengaruhi oleh keberadaan kelokak dan wilayah berhutan di sekitar area persawahan. Dapat dikatakan produktivitas sawah sangat bergantung pada kesinambungan ekologi yang terjaga, terutama kualitas air dan tanah. Oleh karena itu, masyarakat memandang sawah sebagai ruang yang harus dipelihara bersama, karena keberhasilannya tidak hanya ditentukan kerja individu, tetapi oleh kepedulian kolektif terhadap lanskap desa secara keseluruhan.
Kelokak (dibeberapa tempat dikenal dengan istilah Tembawang, Rimbak dan Gupung) merupakan warisan leluhur yang berfungsi sebagai sumber pangan tambahan, ruang belajar nilai budaya, serta penyangga ekologis bagi lingkungan sawah. Di dalam kelokak biasanya terdapat tanaman buah-buahan lokal seperti durian dan cempedak, kayu bernilai ekologis seperti tengkawang, tanaman obat, serta berbagai vegetasi hutan sekunder yang dipertahankan secara alami. Sebagai warisan turun-temurun, kelokak tidak dapat dipandang sebelah mata sebagai aset material akan tetapi sebagai simbol tanggung jawab generasi terhadap alam. Di Nanga Yen pengelolaan kelokak dilakukan dengan prinsip-prinsip kearifan lokal, seperti tidak menebang secara berlebihan, tidak menggunakan bahan kimia yang merusak tanah, dan senantiasa memelihara keberagaman tanaman yang menjadi habitat satwa kecil. Dampak dari pengelolaan yang arif tersebut secara ekologis kelokak membantu menjaga ketersediaan air melalui penyerapan dan pelepasan air tanah, menjaga kualitas tanah dengan menjaga lapisan humus tetap subur, menjaga keanekaragaman hayati yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung produktivitas sawah.
Dalam kerangka sosial budaya, kelokak memperkuat identitas desa melalui cerita-cerita leluhur, aturan adat, dan rasa tanggung jawab antar generasi. Masyarakat desa memelihara Kelokak tersebut melalui aturan adat yang melarang penebangan sembarangan dan mendorong praktik konservasi. Dalam persepsi masyarakat, merusak Kelolak dan area berhutan lainnya berarti merusak sawah dan pada akhirnya merusak kehidupan mereka sendiri.
Masuknya program P3TGAI ke desa menjadi momentum penting dalam memperkuat relasi antara sawah dan kelokak. Program ini bertujuan meningkatkan tata guna air melalui pembangunan saluran irigasi secara swakelola. Namun, nilai terbesar dari P3TGAI bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi pada proses sosial yang menyertainya. Melalui program P3TGAI akhirnya masyarakat mampu mengorganisir diri dalam kelompok tani atau Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), merancang bersama kebutuhan irigasi sesuai kontur alam, melibatkan seluruh unsur masyarakat termasuk perempuan, pemuda dan kelompok marjinal desa, memperkuat semangat gotong royong yang telah hidup dalam pengelolaan sawah dan kelokak. Dampak lain dari program ini membuat aliran air dari hutan semakin teratur, memperkuat ketahanan pangan, serta meminimalkan konflik pemanfaatan air saat musim kemarau. Dengan demikian, program P3TGAI menjadi jembatan antara pengetahuan teknis modern dan kebijaksanaan tradisional yang telah diwariskan leluhur. Program P3TGAI hadir sebagai bukti bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tumbuh dari akar budaya masyarakat sendiri.
Perpaduan antara keberadaan kelokak, praktek tradisional pengelolaan sawah (pertanian organik dan pemeliharaan air) dan intervensi modern (program P3TGAI) membuktikan relasi antara sawah dan kelokak terbukti saling berkaitan dan mempengaruhi serta menjadi contoh model pembangunan desa yang tidak mematikan tradisi, tetapi memperkuatnya. Ketika air mengalir dengan baik dan terjaga membuat sawah menjadi subur. Ketika kelokak dijaga membuat sumber daya pangan tetap melimpah dan keanekaragamanhayati tetap terjaga. Ketika masyarakat memelihara alat irigasi melalui program P3TGAI yang membuat keberlanjutan sistem semakin kuat.
Pengalaman dari Mentelong ini menggambarkan bagaimana masyarakat Nanga Yen memandang tanah bukan sebagai komoditas semata, tetapi sebagai bagian dari kehidupan. Sawah dan kelokak adalah warisan batin dan fisik yang menuntun mereka menjaga alam, tradisi dan budaya dengan penuh keikhlasan. Dengan hadirnya program P3TGAI, masyarakat merasa didukung, dihargai, dan diberikan ruang untuk memperkuat warisan tersebut melalui kerja bersama. Dengan diwariskannya semua hal tersebut bagi generasi muda atau pewaris memnadang sawah dan kelokak bukan lagi sekadar cerita masa lalu, tetapi ruang belajar tentang tanggung jawab, kerja keras, serta kesadaran sosial, budaya dan ekologis.
