Screenshot_2025-12-06-20-42-55-884_dji.go.v5

(Oleh: Jaka Kembara)

Kelokak, yang di berbagai tempat juga dikenal dengan istilah Tembawang, Rimbak, atau Gupung merupakan warisan leluhur yang nilainya jauh melampaui fungsi lahiriahnya sebagai lahan berhutan. Ia adalah ruang keberlanjutan, ruang belajar nilai budaya, dan sekaligus penyangga ekologis yang menjaga konektivitas ekologi antara manusia dan lingkungan, khususnya bagi area persawahan. Di dalam kelokak sendiri tumbuh berbagai jenis pohon buah-buahan seperti durian, cempedak, tengkawang, berbagai jenis tanaman obat, hingga aneka vegetasi hutan sekunder yang terus dipertahankan secara alami dari generasi ke generasi.

Di Desa Lubuk Antuk, kelokak dikelola dengan prinsip kearifan lokal yang penuh kesadaran dan tanggung jawab. Masyarakat tidak menebang pohon secara berlebihan, menghindari penggunaan bahan kimia yang dapat merusak tanah, serta menjaga keberagaman tanaman yang menjadi habitat satwa-satwa kecil. Berkat pengelolaan yang arif ini, kelokak berperan penting dalam menjaga ketersediaan air melalui serapan akar pohon, mempertahankan kesuburan tanah, serta melestarikan keanekaragaman hayati yang berkontribusi langsung maupun tidak langsung terhadap produktivitas sawah.

Namun kelokak tidak hanya berfungsi sebagai penopang ekologi, secara sosial Kelokak juga menjaga hubungan antarmanusia. Saat musim buah tiba, terutama ketika durian dan cempedak mulai jatuh bergantian, kelokak berubah menjadi ruang silaturahmi dan interaksi bagi garis keturunan pewarisnya. Anak-anak, cucu, dan para sepupu atau silsilah keluarga lainnya yang mungkin tinggal di tempat berbeda datang kembali untuk merasakan riuh suasana tawa keluarga, menghirup aroma buah, berebut buah yang jatuh di Kelokak, atau sekedar merasakan suasana Kelokak yang menjadi saksi perjalanan banyak generasi. Di suasana tersebut mereka saling berbagi cerita tentang masa kecil, tentang leluhur yang menanam pohon-pohon itu atau sekadar mengenang cerita lama. Bahkan para sesepuh sering memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan kembali aturan adat tentang bagaimana menjaga kelokak agar tetap lestari.

Kehangatan interaksi ini tidak hanya milik keluarga pewaris. Masyarakat sekitar Kelokak pun menikmati suasana ini, baik hanya untuk Ngelayah (memungut buah yang jatuh), membeli hasil panen, atau sekadar ikut menikmati keramaian musim buah. Pada momen inilah kelokak menjadi panggung sosial yang hidup, sebagai ruang yang mempertemukan kembali sejarah dan garis leluhur. Ruang yang menghidupkan rasa kebersamaan, memperkuat tali persaudaraan, dan menghadirkan kembali nilai gotong royong yang menjadi akar budaya masyarakat. Dengan demikian kelokak bukan hanya hutan warisan leluhur; ia adalah ruang interaksi, ruang perjumpaan, dan ruang belajar bagi generasi yang ingin menjaga hubungan harmonis antara alam dan sesama.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *