(Oleh: Qodja)
Ada tangan-tangan jurnalis yang turut berkontribusi terhadap ramainya Asiang hari ini.
Dari kualitas kuliner yang dijual, belum ada yang spesial ditawarkan. Meja kursi sama kayak warkop tradisional di pasar. Yang membuat Asiang jadi magnet karena pamornya sebagai melting pot.
Pengunjung lokal yang rutin kesana punya imaji bahwa di sana tempat klo mau ketemu warga dari semua kelas sosial dari pebisnis, belukar, politisi sampai mafia.
Yang bangun narasi itu awalnya Jurnalis. Asiang buka sejak subuh & oleh karena lokasinya di tengah dekat pasar ada banyak cukong kayu lokal Pontianak di awal 2000an yang sering nongkrong di sana sejak subuh untuk deal bisnis besar yang oleh Jurnalis dipermanai sebagai tempat transaksi bernilai milyaran rupiah.
Cerita itu diwartakan, lalu diglorifikasi oleh warga yang selalu tertarik & kepo di mana para cukong ini kumpul, bagaimana para cukong ini ngobrol sejak dini hari.
Tradisi ngobrol milyaran sambil ngopi setengah (pancong) itu benaran terjadi.
Jika hari ini ada guyonan bernada peyoratif terkait kebiasaan ngopi pancong berjam-jam di waktu produktif sambil ngibul terkait bisnis milyaran yang dilakukan oleh warga biasa, itu awal mulanya dari situ.
Pernah ada masa di mana para cukong lokal, bohir illegal logging ngumpul di warkop Asiang sejak subuh sambil membincang dan mengunci transaksi bernilai milyaran. Itu pernah benar adanya dan terjadi.
Tapi kini, akibat ramainya warkop ini hingga jadi landmark wisata kuliner, para cukong/ konglo lokal itu tidak begitu nyaman nongkrong di Asiang atau masih nongkrong untuk sekadar nostalgia tapi enggan membahas bisnis di situ lagi.
Mereka melipir dan nyari tempat yang lebih sepi. Percakapan bisnis penting tak lagi dibahas di situ, pun mereka tidak mau terlihat sebagai cukong besar atau sedang melakoni bisnis apa.