Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)
(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode:1980-1982)
Dia menyandang nama gorong-gorong
Rongga besar yang bersemayam di bawah tanah
Panjang berkelok menuju muara
Hantarkan air ke laut lepas
Di atas tanah semua tampak indah dipandang
Seolah tutupi kerumitan yang ada dalam rongga
Berragam sampah hambat perjalanan air
Puluhan kabel besarpun, bergantungan penuhi rongga
Perjalanan air mulai terganggu
Air melimpah menuju jalan dan permukiman warga
Jalan air di kampungpun penuh sampah yang sama
Air kemudian mencari jalannya sendiri
Tanpa berucap salam …… , air menerobos masuk ke rumah warga
Genangi ruang tamu sampai ke dapur masak emak
Ular kecil dan katak-pun turut menyertainya
Harta tak lagi dapat tertolong ….. , semua berderai tak tinggalkan sisa
Bayi kecil diselamatkan relawan ke kantor lurah
Nenek tua dipapah naiki perahu karet yang sudah sesak
Hewan peliharaan tewas, mengapung tak sempat terurus
Kepanikan dan ketakutan berulang terjadi
Gorong-gorong gagal laksanakan mandatnya
Tak mampu penuhi janji tuk lindungi warga dari bencana
Gorong-gorong menangis dalam duka yang mendalam
Hanya berguna untuk selfi para politisi
(Jakarta, 30 Januari 2026)