WhatsAppImage2026-03-27at10.49.18

(Oleh : Mei Purwowidodo0

Mengapa kita bernegara?

Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya ia menyentuh lapisan paling dalam dari kesadaran manusia sebagai makhluk sosial. Negara lahir bukan pertama-tama dari ambisi, melainkan dari kebutuhan: kebutuhan akan keteraturan, keamanan, dan harapan hidup yang lebih baik.

Dalam bahasa para pemikir seperti Thomas Hobbes, tanpa kesepakatan bersama, hidup manusia bisa jatuh pada keadaan “perang semua melawan semua”. Maka negara menjadi jalan keluar—sebuah perjanjian diam-diam agar manusia tidak saling menghancurkan.

Namun negara bukan sekadar pagar pembatas. Ia adalah kesepakatan moral: bahwa kita bersedia hidup bersama, berbagi ruang, berbagi aturan, dan berbagi nasib.

Dalam pemikiran Jean-Jacques Rousseau, negara adalah “kehendak umum”—sebuah kesadaran kolektif bahwa kesejahteraan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi.

Di titik ini, negara sebenarnya netral. Ia bisa menjadi alat kesejahteraan, tetapi juga bisa berubah menjadi alat dominasi. Di sinilah kritik Anda menemukan tempatnya: ketika wilayah, batas, dan simbol-simbol kedaulatan berubah dari alat pengatur menjadi objek pemujaan. Nasionalisme yang awalnya mengikat, bisa berubah menjadi alasan untuk memisahkan, bahkan memusuhi.

Apa yang Anda singgung melalui Imagine karya John Lennon adalah sebuah utopia: dunia tanpa batas, tanpa kepemilikan yang memicu konflik, tanpa identitas yang dipertentangkan. Sebuah dunia di mana manusia cukup menjadi manusia.

Lalu pertanyaannya bergeser: jika kedamaian itu mungkin dibayangkan, mengapa perang tetap terjadi?

Jawabannya mungkin tidak tunggal.

Pertama, ada naluri bertahan hidup. Dalam diri manusia, tersimpan dorongan dasar untuk melindungi diri dan kelompoknya. Naluri ini, dalam kondisi tertentu, berubah menjadi agresi. Bukan karena manusia selalu ingin berperang, tetapi karena ia takut kehilangan.

Kedua, ada hasrat akan kekuasaan. Sejarah menunjukkan bahwa perang seringkali bukan kehendak rakyat, melainkan keputusan segelintir elite. Kekuasaan, sumber daya, dan pengaruh menjadi bahan bakar konflik. Di sini, perang bukan naluri, melainkan pilihan.

Ketiga, ada konstruksi identitas. Manusia cenderung membagi dunia menjadi “kita” dan “mereka”. Selama batas itu ada—baik berupa negara, agama, atau ideologi—potensi konflik akan selalu hidup.

Namun, apakah naluri membunuh itu melekat dan harus ada?

Tidak sepenuhnya. Manusia juga memiliki naluri lain yang sama kuatnya: empati, kerja sama, dan cinta. Kita mampu membangun keluarga, komunitas, bahkan peradaban. Jika naluri destruktif membuat kita bertahan, maka naluri konstruktiflah yang membuat kita berkembang.

Barangkali, pertanyaan akhirnya bukan lagi “mengapa kita bernegara”, tetapi “untuk apa kita mempertahankan negara”.

Jika negara hanya menjadi alasan untuk saling curiga dan berperang, maka ia kehilangan maknanya. Tetapi jika negara menjadi ruang untuk melindungi, menyejahterakan, dan memanusiakan manusia—maka ia tetap relevan.

Mungkin dunia tanpa batas seperti dalam “Imagine” belum bisa kita capai. Tetapi semangatnya bisa kita hidupi: bahwa di balik semua identitas, kita tetap satu spesies yang sama—manusia yang rapuh, yang mencari makna, dan yang diam-diam merindukan damai.

Dan di situlah harapan masih ada.

Salam Jumat berkah,

Solo 27 Maret 2026.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *