Di tengah gemuruh program pembangunan oleh Pemerintah Kabupaten Sintang, ada sebuah desa di Kecamatan Kayan Hilir yang justru semakin tertinggal yaitu Desa Pakak. Desa yang terletak di kaki Bukit Bang ini dikenal sebagai penghasil cabai terbesar di Kabupaten Sintang dan dapat dikatakan sebagai lumbung cabai. Setiap musim panen, cabai dari desa Pakak mengalir ke pasar-pasar di Sintang bahkan pasar di kabupaten tetangga, menjadi bukti nyata potensi ekonomi yang seharusnya bisa dikembangkan.
Yang lebih ironis, Program “TAKIN KEREN” (Tanam Ranki Kendalikan Inflasi) yang digaungkan Pemda Sintang sebagai langkah penanganan inflasi di daerah seperti menutup mata terhadap potensi yang ada di Desa Pakak. Jika Pemda Sintang serius membangun sektor pertanian untuk ketahanan pangan lokal mengahadapi tekanan inflasi, sudah seharusnya desa penghasil cabai ini menjadi prioritas pembangunan bidang pertanian sehingga desa Pakak menjadi pusat penyangga pasokan cabai di wilayah Sintang.
Saat ini, jalan menuju Desa Pakak masih berlika-liku, rusak, dan sulit dilalui saat hujan. Akses transportasi yang buruk ini membuat petani kesulitan mendistribusikan hasil panen, sehingga harga jual sering tidak sebanding dengan jerih payah mereka. Petani cabai di Pakak tetap bekerja dengan cara tradisional, Minimnya akses pembiayaan, pelatihan, atau teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas. Mereka seolah dilupakan, meski hasil bumi mereka turut menggerakkan perekonomian daerah.
Masyarakat Pakak terutama petani cabai tidak perlu model program yang muluk-muluk, populis atau keren. Mereka hanya butuh jalan yang layak, akses pasar yang adil, dan keberpihakan nyata dari pemerintah. Jangan biarkan lumbung cabai Sintang ini semakin tertinggal, sementara pembangunan hanya ramai di atas kertas dan di pusat-pusat kota.
Oleh: D. A. Takin