Agustus kembali tiba. Langit kota dan desa bersolek merah putih. Lagu kebangsaan kembali menggema, upacara digelar, dan pidato kenegaraan disampaikan dari panggung-panggung resmi. Setiap tahun, suasana ini hadir seperti ritual yang diwariskan — penanda bahwa kita masih mengingat hari besar yang melahirkan republik ini.
Namun, di antara gegap gempita selebrasi itu, saya terdiam dan bertanya dalam hati: Apa sebenarnya makna syukur atas kemerdekaan hari ini? Apakah cukup dengan memasang bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau sekadar berdiri khidmat saat upacara? Ataukah syukur sejati justru hidup dalam ruang-ruang sunyi, di mana kemerdekaan dirawat dengan kesetiaan dan keberanian yang tak banyak terlihat?
Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan RI, pernah mengingatkan:
“Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir; ia adalah jembatan emas untuk membangun masyarakat adil dan makmur. Merdeka itu berarti bertanggung jawab kepada Tuhan, kepada bangsa, kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri. Perjuangan kita bukan untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk menegakkan keadilan.”
Bagi sebagian orang hari ini, makna merdeka bukan lagi terletak pada seremoni dan panggung pidato, melainkan pada kerja-kerja diam yang dijalankan dengan cinta.
Mereka tidak hadir di barisan pejabat negara, bukan tokoh layar kaca atau pesohor di kanal digital. Namun merekalah yang menyalakan lilin di tengah gelap: menanam pohon di tanah tandus, mengajar anak-anak di pelosok, memungut sampah di bantaran sungai, mendampingi kaum miskin kota, petani, nelayan, perempuan, masyarakat adat, dan penyandang disabilitas. Mereka memperjuangkan hak-hak dasar yang kerap dilupakan — hak untuk hidup sehat, untuk belajar, untuk mendapat air bersih, tanah dan ruang hidup yang adil, dan udara yang layak dihirup.
Sering kali pula, mereka harus berhadapan dengan kezaliman dan ketimpangan. Mereka melawan pelanggaran hak asasi manusia, meski risiko yang mengintai adalah intimidasi dan bahkan bertaruh nyawa dari kekuasaan dan pemilik modal yang terganggu zona nyamannya. Namun mereka tetap hadir — bukan karena diperintah, tapi karena terdorong oleh cinta yang tak banyak bicara.
Mereka tak butuh seragam, tak haus pengakuan. Mereka tahu: mencintai Indonesia tak cukup lewat pidato yang menggelora, melainkan lewat keberpihakan yang nyata — lewat keringat, waktu, dan kesetiaan.
Di tengah dunia yang makin sibuk melupakan, mereka terus mengingatkan. Di tengah negeri yang kadang kehilangan negara, mereka justru menjadi tempat berpulang. Mereka merawat kemerdekaan dengan cara paling jujur: menghadirkan harapan di tempat-tempat yang sunyi dari perhatian. Mereka mungkin tak diundang dalam upacara kenegaraan, tapi mereka mensyukuri kemerdekaan setiap hari secara sederhana dan bersahaja — dengan tangan-tangan yang bekerja dan hati yang tetap setia menjaga kehidupan.
Kemerdekaan sejati, bagi mereka, bukan hanya hak untuk bebas. Ia adalah tanggung jawab untuk peduli. Ia bukan semata hasil dari proklamasi dan revolusi, tetapi warisan yang harus terus diperjuangkan dan dipelihara — agar tak jadi kosong makna. Dan untuk semua itu, mereka hadir dalam diam, mengabdi dalam sunyi.
Di bulan kemerdekaan ini, mari kita arahkan rasa syukur kita pada hal-hal yang lebih mendasar, lebih esensial. Mari belajar dari mereka — yang menunjukkan bahwa mencintai Indonesia bukanlah semata perkara simbol, melainkan keberanian berpihak kepada yang tertindas dan terpinggirkan. Karena kemerdekaan sejati tak cukup hanya diucapkan — ia harus dihidupi, dirawat, dan diwariskan.
Kita tak harus menjadi pahlawan di medan perang atau diplomat di meja perundingan. Tapi kita bisa menjadi penjaga harapan di jalan-jalan senyap — tempat kemanusiaan dan kesetiaan kepada republik sejatinya diuji. Karena negeri ini tak hanya butuh suara yang lantang, tapi juga tangan-tangan yang bekerja. Tak hanya butuh bendera, tapi juga jiwa-jiwa yang rela menjaga.
Dan untuk mereka yang telah lebih dulu berjalan dan berkarya dalam senyap — terima kasih. Telah mengajarkan kepada kami cara paling tulus untuk mensyukuri kemerdekaan: dengan bekerja, mencinta, dan menjaga kehidupan.
Pontianak, 3 Agustus 2025
Oleh: M. Hermayani Putera
