WhatsApp Image 2025-08-14 at 10.27.27
Setiap 14 Agustus, sekolah mendadak jadi panggung fashion show alam terbuka: atasan cokelat muda, bawahan cokelat tua, tunas kelapa di dada, kacu merah putih di leher.

Setiap 14 Agustus, sekolah mendadak jadi panggung fashion show alam terbuka: atasan cokelat muda, bawahan cokelat tua, tunas kelapa di dada, kacu merah putih di leher. Dari jauh, mirip kebun kelapa berbaris rapi. Pekik “Siap!” pun bergema—tegas di mulut, tapi bagi yang belum sarapan karena buru-buru upacara, dalam hati ada suara lirih, “Habis ini makan apa, ya?”

Kata pembina, warna cokelat itu melambangkan kesederhanaan. Bagi saya waktu kecil, artinya sederhana sekali: kalau jatuh di lapangan, tidak kelihatan kotor. Seragam ini low maintenance, cocok untuk anak yang kalau disuruh cuci baju jawabnya, “Nanti saja, Bu.”

Awalnya semua ini dari Sir Robert Baden-Powell di Inggris—seorang jenderal yang berpikir, “Daripada anak-anak ini bengong, mending suruh mereka jelajah alam, masak sendiri, dan belajar disiplin.” Ide itu merantau sampai Hindia Belanda lewat NIPV, lalu disambut hangat oleh pemuda bumiputra. Di tanah air, kepanduan bukan cuma baris-berbaris, tapi jadi kawah candradimuka pembentuk karakter dan rasa kebangsaan.

Dari rahim kepanduan lahirlah tokoh-tokoh besar. Panglima Besar Jenderal Sudirman—pemimpin perang gerilya yang tetap memimpin dari tandu di tengah hutan, sambil melawan penyakit paru-paru. Kalau beliau lahir di zaman scroll tanpa henti, mungkin kita mengenalnya sebagai content creator survival dengan tagline, “Menang melawan penjajah dan TBC tanpa skip iklan.” Tapi beliau memilih jalan sunyi dan keras: memimpin di depan, nyawa taruhannya.

Ada Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Semboyannya, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani,” lahir dari visi pendidikan yang memerdekakan. Andai beliau hidup di era reels dan TikTok, mungkin terdengar begini: “Ing depan bikin konten edukasi, di tengah mentoring, tut wuri nge-share link Google Drive.”

Jangan lupa Mohammad Hatta. Sebelum jadi Wakil Presiden, beliau aktif di kepanduan mahasiswa Indonesia di Belanda. Dari regu-regu kecil itu, ia belajar organisasi, kerja tim, dan bagaimana menjaga semangat meski jauh dari tanah air. Lalu ada Tan Malaka, yang meminjam metode kepanduan untuk mendidik rakyat kecil: jelajah, disiplin, dan keberanian—tapi dibumbui kesadaran politik agar bangsanya bangun dari tidur panjang. Hatta dan Tan Malaka tidak belajar memimpin dari kursus kepemimpinan instan atau webinar dua jam.

Kalau saya sendiri ditanya, apa kenangan paling seru di Pramuka? Latihan tali-temali. Pembina minta simpul mati, hasilnya simpul “mati-matian”. Menjelajah pakai kompas yang jarumnya sering macet—hasilnya nyasar, tapi dapat bonus pohon mangga. Lomba halang-rintang, kaki gemetar, hati percaya diri, lalu nyebur ke kolam berlumpur. Bonusnya? Tawa gratis untuk semua.

Tidur di tenda? Itu pengalaman spiritual. Bayangkan, tidur nyenyak, lalu jam tiga pagi hujan turun, dan titik bocornya tepat di atas kepala. Bangun-bangun langsung keramas gratis. Memasak di tungku batu? Kalau tidak gosong, ya setengah matang. Tapi demi Tanda Kecakapan Khusus, semua dijalani dengan tawa.

Namun di balik semua itu, ada hal serius: Pramuka punya Kode Kehormatan, dirumuskan sebagai Tri Satya dan Dasa Darma. Tri Satya adalah janji suci—setia kepada Tuhan, NKRI, Pancasila, UUD 1945; menolong sesama; dan menepati Dasa Darma. Dasa Darma adalah versi lengkapnya: bertakwa, cinta alam, sopan, kesatria, suka musyawarah, rela menolong, rajin, terampil, gembira, hemat, disiplin, berani, setia, bertanggung jawab, dan suci. Singkatnya: jadi manusia yang tidak merepotkan orang lain, apalagi negara.

Satya itu sumpah, Darma itu jalan. Sumpah tanpa jalan hanya nostalgia upacara. Jalan tanpa sumpah? Ibarat berjalan tanpa Google Maps— maksud hati ke bengkel ban, eh nyasar di kedai asam pedas Bang Roni yang melegenda.

Sayangnya, di era digital, Pramuka sering dianggap kuno. Padahal kalau di-upgrade, ia bisa luar biasa: latihan kepemimpinan, tanggap bencana, teknologi ramah lingkungan, sampai survival di dunia maya alias etika digital. Bayangkan: dari tali-temali ke coding, dari kompas ke GPS. Tetap seru, tetap relevan.

Hari Pramuka seharusnya bikin kita bertanya: masihkah kita ini tunas kelapa yang bermanfaat, atau sudah jadi batang kelapa kering yang cuma jadi tiang jemuran? Masihkah Merah Putih itu ada di jiwa, atau sekadar numpang di kacu?

Hymne Pramuka bilang: Satya kudarmakan, Darma kubaktikan… agar jaya Indonesia, tanah airku. Dulu kita sanggup berdiri berjam-jam di bawah matahari demi hormat bendera. Masa sekarang tidak bisa berdiri tegak demi negeri?

Tunas kelapa di dada itu jangan sampai layu. Karena Merah Putih bukan sekadar kain—dia alasan kenapa dulu kita rela nyasar di hutan eh kebun orang, kepanasan di lapangan, dan tertawa bersama menikmati tenda bocor. Kalau kenangan itu saja bisa membuat kita kuat, apalagi jika kita benar-benar menepati janji Pramuka dalam hidup sehari-hari.

 

Oleh: M. Hermayani Putera

Our Social Media

1 thought on “Tunas Kelapa Tak Boleh Layu di Negeri yang Nyaris Patah

  1. Ringan tapi menyentuh saat kita benar benar pernah merasakan apa yang penulis tuliskan. Sesat dengan kompas ketemu pohon mangga sambil nunggu kawan lain sengaja nunggu diposisi aman di bawah pohon mangga. Acara jerit malam yang benar benar ketemu bentuk asli bukan kakak pembina yang nyamar jadi kuntilanak. Hahahaha terimakasih penulis,, sudah membuat kenangan lama kembali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *