Masa Depan Bumi Ada di Keranjang Belanja Kita
Coba kita berhenti atau merenung sejenak lalu berpikir, apa arti secangkir kopi yang kita seruput di pagi hari atau arti satu saset/satu liter botol minyak goreng di dapur rumah yang kita beli? Bagi sebagian besar orang baik suami atau istri, itu hanya rutinitas biasa sehari hari. Tapi bagaimana dengan hutan dan sungai di sepanjang DAS Kapuas, semua pilihan sederhana itu bisa menjadi peluang bersama untuk mendukung pelestarian?.
Keranjang belanja kita memang kecil, tapi cerita di ada dalamnya panjang dan kompleks. Ia bukan hanya sekadar urusan murah atau mahal, praktis atau tidak. Ada jejak bumi, ada beragam nasib masyarakat lokal, yang ikut terdampak dalam setiap pilihan konsumsi yang kita pilih dan lakukan.
Belanja Bukan Sekadar Harga
Cobalah sesekali belanja ke pasar Flamboyan, kita akan lihat ikan segar dari perairan atau laut Pemangkat, Jawai di Sambas, Mempawah dan Kuburaya. Kita lihat sayuran dari Singkawang, dan Kuburaya atau bahkan Bengkayang. Madu hutan dari Kapuas Hulu dan Sintang atau daerah lainnya—semua itu adalah hasil kerja keras petani lokal atau di desa. Sementara di Supermarket atau Mall, produk instan bermerek bahkan impor dari malaysia dan lainnya tersusun rapi. Dan sering kali, mata kita terpaku pada yang lebih murah, yang lebih praktis.
Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya untung, siapa yang menanggung rugi?
Membeli madu hutan artinya ikut menjaga pohon-pohon tetap tegak. Membeli produk tanpa peduli mempertanyakan asal-usulnya atau rantai pasok nya yang tidak komit dalam mitigasi perubahan iklim bisa jadi artinya kita menyumbang deforestasi dan degradasi hutan dan lingkungan secara keseluruhan.
Gaya Hidup Sehat, Bumi Ikut Kuat
Namun, sekarang kita lihat mulai muncul tren baru yang berbeda. Banyak orang orang kalangan tertentu mulai mengurangi konsumsi daging, lebih suka makanan nabati, atau setidaknya membawa tumbler biar tak beli air kemasan yang sekali pakai. Sepele memang, tapi dampaknya besar. Industri peternakan besar adalah penyumbang emisi karbon kalau tidak dikelola dengan prinsip mitigasi tatakelola perubahan iklim dan cara berkelanjutan. Demikian juga plastik sekali pakai sudah jadi musuh utama sungai maupun laut.
Di Pontianak, Kuburaya, Sintang, Singkawang, Sambas, dan Kapuas Hulu, kita lihat anak-anak muda mulai terbiasa nongkrong dengan kopi gula aren, atau mencoba menu sehat. Itu tanda perubahan. Menjaga tubuh ternyata tak bisa dipisahkan dari menjaga bumi. Beberapa Perusahaan agribisnis termasuk perkebunan sawit telah melakukan berbagai upaya mitigasi perubahan iklim dengan mendeklarasikan pemenuhan kebijakan NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation) dimana tujuannya adalah untuk memastikan bahwa produksi tidak merusak lingkungan atau melanggar hak asasi manusia. Demikian juga halnya upaya mitigasi perubahan iklim dan semangat dari Petani Sawit Mandiri yang sedang didorong dan telah komit dilibatkan dalam pemenuhan sistem RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) atau ISPO untuk di Indonesia adalah forum internasional/nasional yang membuat aturan bersama agar minyak sawit bisa dikelola dengan cara yang berkelanjutan.
Setiap kali kita membeli produk dan memakai produk tanpa mempedulikan sertifikasi dan komitmen mitigasi perubahan iklim dan pemenuhan prinsip NDPE dan RSPO atau ISPO, kita sedang menambah tekanan terhadap perubahan iklim lokal dan global. Sebaliknya, jika ketika memilih produk yang jelas
jejak produksinya atau rantai pasoknya mulai dari sertifikasi bibit sampai mendukung pemenuhan komitment NDPE dan RSPO/ISPO, kita memberi ruang agar hutan, sungai dan lingkungan tetap punya harapan.
Kapuas Hulu, Sintang, Sambas, Kayong Utara, Kuburaya menyimpan kekayaan luar biasa. Ada Taman Nasional, kawasan rawa dan danau musiman yang jadi rumah ratusan jenis ikan—termasuk arwana yang mendunia—dan habitat burung migran. Hutan-hutannya menghasilkan madu hutan, kopi organik, dan rotan yang sudah jadi sumber ekonomi masyarakat. Bila konsumen dikota kota lebih sering memilih produk lokal, masyarakat punya alasan kuat untuk terus menjaga hutan dan danau mereka.
Sebagai kota besar, Pontianak adalah cermin. Pasar tradisionalnya maupun supermarketnya tidak terelakkan banyak dipadati barang impor. Konsumen di kota ini punya daya beli yang bisa menentukan arah. Kalau lebih banyak orang memilih kopi lokal ketimbang kopi luar, atau madu hutan ketimbang sirup instan, sinyal yang terkirim jelas: konsumen peduli, produsen pun harus menyesuaikan diri.
Konsumsi Bisa Jadi Gerakan
Konsumerisme bertanggung jawab tak berhenti di level pribadi. Semakin banyak orang memilih dengan nurani, semakin besar pengaruhnya. Bayangkan jika sekolah di Pontianak mulai mengenalkan produk lokal pada anak-anak. Bayangkan kafe-kafe menjadikan madu hutan sebagai menu kebanggaan. Perubahan nyata lahir bukan dari slogan, tapi dari kebiasaan sehari-hari.
Tentu ada hambatan. Produk ramah lingkungan biasanya lebih mahal. Informasi asal-usul barang pun tidak selalu jelas. Tak semua orang punya akses untuk memilih. Tapi kita bisa mulai dari hal-hal kecil: membawa tas belanja, membeli di pasar lokal, atau sekadar bertanya asal-usul produk sebelum membeli. Jika dilakukan bersama-sama, langkah kecil ini akan terasa besar.
Belanja dengan Nurani
Masa depan Kalimantan Barat—Sumberdaya alam nya bergantung pada pilihan konsumsi kita hari ini. Setiap rupiah yang kita keluarkan adalah suara: apakah kita akan mendukung perusakan, atau memperjuangkan kelestarian? Keranjang belanja mungkin kecil, tapi maknanya besar. Dari situlah arah masa depan bumi, dan masa depan kita bersama, sedang ditentukan.
Oleh: Mulyadi HDJ
