ChatGPT Image 27 Okt 2025, 08.40.48_11zon
(Oleh: Mira S. Lubis, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Tanjungpura) Kota sering kali digambarkan sebagai karya para perencana, arsitek, dan pemerintah, dan merupakan hasil dari strategi menata ruang agar tampak teratur, rasional, dan efisien, yang diproyeksikan hingga puluhan tahun ke depan. Namun Michel de Certeau, seorang pemikir Prancis yang menulis buku The Practice of Everyday Life (1984), mengajak kita melihat dan memahami kota dengan cara lain: bukan dari atas peta, melainkan dari bawah, dari langkah kaki, dari praktik kecil warga yang setiap hari menghidupkannya.

Oleh: Mira S. Lubis, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Tanjungpura

Kota sering kali digambarkan sebagai karya para perencana, arsitek, dan pemerintah, dan merupakan hasil dari strategi menata ruang agar tampak teratur, rasional, dan efisien, yang diproyeksikan hingga puluhan tahun ke depan. Namun Michel de Certeau, seorang pemikir Prancis yang menulis buku The Practice of Everyday Life (1984), mengajak kita melihat dan memahami kota dengan cara lain: bukan dari atas peta, melainkan dari bawah, dari langkah kaki, dari praktik kecil warga yang setiap hari menghidupkannya.

Bagi de Certeau, kota memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah kota yang dilihat “dari atas”, dari menara pengawas, dari ruang kendali, dari dokumen rencana tata ruang. Ini adalah cara pandang strategis yang dimiliki oleh lembaga, pemerintah: mereka melihat kota sebagai sistem yang bisa diatur. Wajah kedua adalah kota yang dilihat “dari bawah”, sebagaimana dialami oleh pejalan kaki yang menelusuri gang, menyeberang jalan, membeli jajanan, atau berbelok ke jalur pintas. Inilah dunia keseharian yang dipenuhi taktik, yakni cara-cara cerdas dan improvisasi warga untuk menavigasi kehidupan di tengah aturan yang harus mereka terima tanpa bisa melawan. Dengan kata lain, kalau strategi adalah bahasa kekuasaan, maka taktik adalah bahasa kehidupan sehari-hari.

De Certeau menggunakan istilah taktik untuk menggambarkan bagaimana warga kota merespon sistem yang besar. Warga yang berjalan kaki, misalnya, tidak selalu mengikuti rute resmi trotoar yang dibangun pemerintah; mereka memotong jalan lewat taman atau lorong sempit, begitu juga pengendara motor yang rela menembus gang-gang sempit demi mencari jalan tercepat, ketimbang mengikuti jalur jalan formal yang lebar dan representatif ‘hasil karya perencana’, namun terhalang macet. Pedagang kaki lima menempati area-area yang secara hukum “ilegal”, tetapi entah kenapa kehadiran mereka justru membuat kota lebih hidup dan menyenangkan.

Taktik adalah tindakan kecil yang bersifat kreatif, adaptif, dan kadang subversif. Ia tidak bermaksud menentang sistem secara frontal, tetapi menyesuaikannya demi bertahan. Seorang ibu yang menjemur pakaian di gertak (titian kayu) depan rumahnya, sopir ojek yang menunggu penumpang di bawah rindangnya pepohonan pinggir jalan, atau aksi remaja yang menempelkan mural di dinding kota, semuanya adalah bentuk mikro dari produksi ruang versi rakyat biasa.

Di sinilah letak keindahan pemikiran de Certeau yang sangat menginspirasi: ia menggeser perhatian dari “perencana kota” ke “pengguna kota”, dari city planning ke city living. Dalam salah satu bagian paling terkenal bukunya, de Certeau menulis tentang “the walkers in the city”, para pejalan kaki yang menciptakan tulisan tak kasat mata di atas peta kota dengan langkah-langkah mereka. Bagi dia, berjalan adalah bentuk narasi: setiap rute, belokan, atau perhentian adalah “kata” yang membentuk “kalimat” dari kisah hidup di ruang kota. Artinya, kota tidak hanya dibangun oleh beton dan aspal, tetapi juga oleh cerita, kebiasaan, dan jejak langkah warganya. Gang-gang kecil, parit, warung kopi, gertak, atau pasar tradisional bukan sekadar infrastruktur, melainkan titik temu antara ruang dan makna.

Kota yang sebenarnya bukanlah yang ada di dokumen RTRW (rencana tata ruang), melainkan yang dihidupi melalui rutinitas, percakapan, dan improvisasi sehari-hari. De Certeau menolak pandangan bahwa keseharian adalah hal remeh dan tidak penting. Justru di situlah berlangsung bentuk-bentuk kecil perlawanan dan kritik halus atas produk rencana kota. Ketika warga mengubah cara menggunakan ruang publik, misalnya menggelar atraksi di lampu merah, berekreasi dan swafoto di jembatan, atau membuat pasar kaget di trotoar depan masjid, mereka sedang mengklaim sebagian ruang yang sebelumnya dikuasai oleh sistem formal. Dengan demikian, kota bukan hanya hasil perencanaan politik, tetapi juga arena politik dalam skala mikro. Di sinilah de Certeau bertemu dengan gagasan “hak atas kota” (right to the city) yang diusulkan oleh Henri Lefebvre: bahwa setiap warga memiliki hak untuk memaknai dan menggunakan kota sesuai kebutuhannya sendiri.

Melalui kacamata Michel de Certeau, kota tidak pernah selesai dirancang. Ia selalu sedang diciptakan ulang setiap hari, oleh jutaan tindakan kecil: langkah kaki, percakapan, aroma makanan, atau bahkan cara orang menyeberang jalan. Kota adalah teks yang ditulis bersama, antara strategi para perencana dan taktik para penghuninya. Ruang-ruang hasil rencana adakalanya dimaknai sama oleh warga sesuai yang dimaksud perencana, namun adakalanya dimaknai secara berbeda, bahkan dianggap merugikan. Maka memahami kota berarti bukan hanya membaca dokumen perencanaan, namun juga belajar membaca keseharian, karena di situlah tersimpan kebijaksanaan hidup warga kota yang sejati: seni untuk bertahan, beradaptasi, dan memaknai ruang yang kita tinggali.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *