Oleh: Beni Sulastiyo
Saya punya teman seorang peternak kambing, namanya Matkambeng. Kambing milik Matkambeng terkenal bagus-bagus dan sangat produktif.
Teman saya yang satu lagi namanya Matjagong. Ia adalah seorang petani jagung yang handal.
Matjagong berencana akan beternak kambing. Ia yakin kalau punya 6 ekor betina dan seekor jantan pada tahun ini, maka tahun depan, ia akan punya tambahan minimal 12 ekor kambing, karena satu ekor kambing bisa melahirkan 2 ekor anak kambing dalam setahun. Sehingga jumlah kambingnya akan bertambah dari 7 ekor menjadi menjadi 19 ekor, atau lebih dari 2 kali lipat.
Sayangnya Matjagong hanyalah petani miskin. Ia tak mampu membeli kambing. Apalagi dalam jumlah yang banyak.
Matkambeng dan Matjagong tinggal di Kampung yang sama. Namanya Kampung Kalimas. Kampung itu dipimpin oleh seorang kepala Kampung yang cerdas dan bijak, namanya Matemas.
Matjagong kemudian mengutarakan niatnya kepada Matemas untuk membeli kambing, tapi tak punya uang. Sementara ladang jagunya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya saja.
Matemas setuju untuk membantu Matjagong, salah satu warganya yang sudah ia kenal sebagai warga yang jujur dan baik itu: Matemas meminta Matjagong untuk kembali esok hari. Matjagung pun pamitan.
Setelah Matjagong pulang Matemas mengajak anaknya pergi ke Kalimas. Bersama anaknya ia mendulang emas di kali yang terkenal memiliki emas banyak emas dan dengan butiran besar-besar, sebesar gula pasir. Setelah setengah hari mendulang, Matemas dan anaknya berhasil membawa pulang 7 gram emas murni.
Keesokan harinya, Matjagong datang kembali ke rumah Matemas. Setelah menikmati kopi dan sajian ubi goreng, Matemas kemudian menyodorkan 8 gram emas itu kepada Matjagong. “Bawa emas ini ke Matkambing. Tukarkan 7 emas ini dengan kambing yang kau inginkan!”
Matjagung lalu bertanya akad emas itu kepada Matemas. Matemas berkata, “tukarkan satu gram emas dengan bibit jagung yang bagus. Kau tanam di ladangmu yang paling subur. Hasil panennya bawa ke rumah ku. Biar aku yang menjualnya.
Matjagung mengikuti perintah Matemas. Ia membawa emas itu ke Matkambing. Matkambing lalu menerima emas itu lalu memberinya 7 ekor kambing. Matjagong gembira. Ia pulang kerumah dengan membawa 7 ekor kambing.
Sesampainya di rumah Matjagong mengumpulkan 3 orang anaknya. Ia memerintahkan anaknya untuk menukarkan 1 gram emas menjadi bibit jagung dan peralatan pertanian. Dalam perhitungannya 1 gram emas akan bisa membeli bibit untuk ladang seluas lapangan bola. Lahan seluas itu akan menghasilkan minimal 5 ton jagung pipilan dalam waktu sekitar 4 bulan. Keesokan harinya anak-anak Matjagong langsung gaspol.
Empat bulan kemudian, ladang jagung itu panen. Hasilnya tak meleset, 5 ton jagung pipilan. Sesuai dengan akad, Matjagong membawa hasil panen itu ke Matemas, si Kepala Kampung yang cerdas itu. Matjagong diminta untuk kembali ke rumahnya besok pagi.
Matemas kemudian menghubungi temannya di kota dan menjual jagung itu kepada temannya. Jagung pipilan Matemas dihargai dengan uang Rupiah sebesar Rp 15 rb/ kg. Sehingga Matemas mendapatkan uang sebesar Rp 75 juta dari temannya.
Keesokan harinnya Matjagong kembali ke rumah Matemas. Matemas kemudian memberi Matjagong sekantong uang sebesar 14 juta. Ia meminta Matjagung membawa uang itu ke Matkambing. Matkambing diminta oleh Matemas untuk membawa pulang 7 gram emas yang pernah ia tukarkan menjadi 7 ekor kambing sekitar 4 bulan silam. Matjagong pun mengikuti perintah Matemas.
Sesampainya di rumah Matkambing, Matjagong melaksanakan perintah Matemas. Matkambing kemudian menyerahkan 7 gram emas itu kepada Matjagong.
Matjagong kembali ke rumah Matemas, sembari menyerahkan 7 gram emas itu kepada Matemas.
Setelah menerima emas itu, Matemas kemudian memberi Matjagong 14 gram emas untuk ditukarkan dengan 14 ekor kambing kepada Matkambing. Matemas kemudian memberinya lagi 8 gram emas. Satu gram untuk membeli bibit jagung, sisanya 7 gram dibebaskan oleh kepada Matjagong untuk membeli apa saja.
Matjagong tentu saja senang. Sebab sekarang ia telah punya 21 ekor kambing dan 7 gram emas. matjagung tak hanya senang karena mendapatkan punya kambing dan emas, tapi ia mendapatkan pelajaran yang sangat penting dari Kepala Kampung.
Matjagong kemudian mengumpukan anak-anaknya, ia tidak membelikan bonus 7 gram emas itu ke barang-barang lain. Ia justru memberikan emas itu kepada anak-anaknya untuk membeli kambing. setiap anak ia beri 2 gram emas dan emas itu wajib ditukarkan dengan dua ekor kambing betina. Anak-anaknya kemudian ke rumah Matkambing dan menukarkan emas itu menjadi 2 ekor kambing. Karena anak Matjagong ada 3 maka pada hari itu mereka bisa membawa pulang 6 ekor kambing betina.
Sekarang keluarga Matjagong sudah punya 27 ekor kambing. Kambing-kambing itu beranakpinak.
Setelah dua tahun berlalu, jumlah kambing yang dimiliki keluarga Matjagung berlipat 4 menjadi 108 ekor. Sementara ladang jagungnya kini bertambah luas. Kini keluarga Matjagong punya ladang jagung seluas 4 kali lapangan bola.
Setelah lima tahun, orang kampung tidak lagi memangilnya dengan panggilan Matjagong, tapi MatjEmbeng. Singkatan dari MatjagungEndmatkambeng.
Pontianak, 28.10.25
Berkahselaloe,
