WhatsApp Image 2025-11-16 at 10.45.28
(Oleh: Jaka Kembara) Nama desanya adalah Nanga Yen, sebuah desa yang di beberapa sudutnya terdapat hamparan sawah dan aliran sungai kecil, termasuk hamparan sawah di area Mentelong yang menjadi salah satu lokasi pembangunan pertanian desa. Di desa ini tumbuh sebuah budaya yang hangat dan saling menguatkan yang telah mengakar begitu lama.

Oleh: Jaka Kembara

Nama desanya adalah Nanga Yen, sebuah desa yang di beberapa sudutnya terdapat hamparan sawah dan aliran sungai kecil, termasuk hamparan sawah di area Mentelong yang menjadi salah satu lokasi pembangunan pertanian desa. Di desa ini tumbuh sebuah budaya yang hangat dan saling menguatkan yang telah mengakar begitu lama. Di desa ini, masyarakat percaya bahwa setiap orang, apa pun kondisinya, memiliki nilai dan kemampuan yang layak dihargai. Keyakinan itu bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bagaimana mereka memperhatikan dan merangkul warga dengan kemampuan yang berbeda.

Di desa ini setiap agenda pembangunan yang masuk akan dikerjakan oleh tim swakelola yang dibentuk bersama kelompok masyarakat yang ada di sekitar lokasi pembangunan tersebut, seperti contoh pembangunan irigasi pertanian di area Mentelong dikerjakan oleh kelompok warga yang memiliki lahan sawah di area tersebut. Namun warga desa memberikan perhatian khusus kepada warga lainnya yang memiliki kemampuan berbeda, mereka diperbolehkan untuk berpartisipasi dimanapun setiap agenda pembangunan berlangsung di desa.

Di Mentelong saya bertemu dengan Nurhayati, seorang perempuan Tuna Grahita dengan tingkau gaok (Panggilan sayang) Kayang, Nurhayati sendiri merupakan salah satu orang dengan kemampuan berbeda yang ada di Desa Nanga Yen. Alih-alih menempatkan mereka di pinggir, warga desa justru mengundang mereka masuk ke pusat kegiatan. Dalam setiap program pembangunan desa mulai dari kerja bakti membuka akses jalan, kegiatan pertanian, pengolahan hasil kebun, hingga acara-acara sosial dan keagamaan, selalu tersedia ruang partisipasi yang bermakna di desa ini. Mereka tidak sekadar “dilibatkan” sebagai simbol, tetapi diberi tugas sesuai kemampuan, dihargai kontribusinya, diberikan penghargaan yang sama dan setara dengan warga lainnya serta diberikan pendampingan bila diperlukan.

Warga desa juga ikut membantu menyesuaikan alat kerja agar lebih mudah digunakan, alat kerja umum yang sering digunakan oleh perempuan disini adalah Renjung. Renjung adalah sejenis keranjang tradisional yang digunakan untuk mengangkut barang yang terbuat dari anyaman rotan atau bemban. Tapi sekarang Renjung yang umum digunakan terbuat dari jerigen plastik oli bekas atau yang biasa di sebut ken oleh warga, adaptasi penggunaan jerigen ini selain memiliki daya tahan yang kuat juga untuk memanfaatkan barang bekas. Jika perempuan pada umumnya menggunakan Renjung dengan kapasitas 10 liter maka Nurhayati menggunakan Renjung berkapasitas 5 liter.

Tidak ada perbedaan. Tidak ada diskriminasi. Yang ada hanyalah kebersamaan yang tumbuh dari kesadaran bahwa kemajuan desa bukan milik segelintir orang, tetapi hak seluruh warganya. Dan dalam proses itulah terlihat sebuah pemandangan yang mengharukan: mereka yang dulu dianggap terbatas, kini menjadi bagian penting yang justru memperkaya dinamika pembangunan. Para tokoh dan perangkat desa memikirkan aktivitas yang memungkinkan siapa saja berperan, memastikan bahwa setiap musyawarah selalu menyertakan suara mereka bukan karena belas kasihan, tetapi karena desa menyadari bahwa keberadaan mereka adalah bagian sah dari kekuatan sosial desa.

Di Desa Nanga Yen, inklusi bukanlah konsep rumit. Ia hadir sederhana, dalam bentuk uluran tangan, kesempatan, dan penghargaan. Masyarakat desa ini percaya bahwa ketika setiap orang diberi ruang untuk berperan, maka desa akan maju bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara hati dan kemanusiaan.

Our Social Media

1 thought on “Belajar dari Mentelong: Nurhayati dan Pelibatan Bermakna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *