Oleh: Al – Fakir
Di dunia ini banyak yang hadir hanya saat kita bersinar, namun orang-orang menjauh ketika kita redup.
Dan pada titik terendah itu…kita baru sadar siapa yang benar-benar mendengar tangis tanpa suara kita.
Allah tak menilai dari kesempurnaan langkah, tapi dari keberanian untuk bangkit.
Saat semuanya pergi, Dia (Allah) tetap tinggal.
Menunggu…
Sampai kita kembali menunduk dalam sujud.
Allah berfirman :
“Katakanlah ;
Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap mereka sendiri, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”(QS. Az-Zumar; 53)
Ayat ini turun sebagai pelukan bagi hati yang merasa hancur.
Seburuk apapun masa lalu seseorang, rahmat Allah selalu lebih besar dari dosa kita.
Manusia menilai dari hasil.
Tapi Allah melihat dari proses.
Bahkan satu langkah kecil menuju-Nya lebih berarti daripada seribu langkah menjauh.
Rasulullah bersabda ;
“Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”( HR. Muslim no.2747 )
Allah tidak menunggu kita sempurna untuk mencintai kita.
Dia, hanya menunggu kita pulang.
Jangan malu karena pernah jatuh.
Jatuh adalah cara Allah mengajarkan kita bahwa satu-satunya tempat berpijak yang pasti adalah Sujud.
Kegagalan kadang bukan tanda Allah menjauh, tapi cara – Nya memeluk kita lebih erat – agar kita belajar bergantung hanya kepada-Nya.
Saat manusia menilai dari sorotan, Allah melihat dari keheningan.
Disitulah cinta-Nya bekerja – bukan saat kita sempurna, tapi saat kita berjuang untuk kembali.
Temukan ketenangan hati dan harapan baru, tenang dalam genggaman – Nya.
Barakallahu fikum aj’main
Sukamiskin,