WhatsApp Image 2025-11-17 at 09.48.36_11zon
(Oleh: Jaka Kembara) Di Desa Nanga Yen, Proyek P3TGAI (Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi) hadir sebagai angin segar bagi para petani yang selama ini mengandalkan irigasi sederhana untuk menyuburkan ladang dan sawah mereka.

Oleh: Jaka Kembara

Di Desa Nanga Yen, Proyek P3TGAI (Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi) hadir sebagai angin segar bagi para petani yang selama ini mengandalkan irigasi sederhana untuk menyuburkan ladang dan sawah mereka. Proyek P3TGAI sendiri merupakan sebuah program padat karya tunai dari Kementerian PUPR (pekerjaan umum dan perumahan rakyat) yang bertujuan memperbaiki, merehabilitasi, atau membangun jaringan irigasi dengan melibatkan partisipasi masyarakat petani. Pelaksanaan proyek ini dilakukan secara swakelola oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dimana petani menjadi garda terdepan dalam pelaksanaannya sekaligus penerima manfaat utama. Dengan adanya perbaikan saluran air, para petani berharap hasil panen menjadi lebih stabil dan kesejahteraan warga meningkat. Proyek P3TGAI di Nanga Yen tidak hanya membangun infrastruktur irigasi, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi komunitas tani desa.

Di balik proses pembangunan itu, gotong royong menjadi denyut utama yang menjaga proyek tetap hidup, petani yang berpartisipasi membawa tenaga dan kemampuan yang mereka miliki. Tak terkecuali, perempuan-perempuan Nanga Yen turut hadir sebagai pekerja swadaya, berdiri sejajar dengan para lelaki. Tangan mereka yang sehari-hari akrab dengan pekerjaan rumah tak gentar memegang cangkul membuat galian saluran, mengangkat batu dan pasir, dan membantu menata saluran irigasi dengan ketelatenan, kehadiran mereka memperlihatkan bahwa keberhasilan pembangunan desa bukan hanya tugas satu pihak, tetapi buah dari kekuatan bersama.

Yang menarik, sebelum waktu pekerjaan dimulai, disela waktu istirahat dan pulang dari bekerja di lokasi proyek beberapa orang perempuan pergi ke hutan kecil atau bantaran sungai mencari tanaman Bemban, Bemban atau bamban (Donax canniformis) adalah tanaman khas rawa dan tepi sungai yang dikenal kuat dan lentur, sejenis terna yang menghasilkan serat bahan anyam-anyaman. Tanaman ini sering ditemukan tumbuh liar di tepi-tepi air, bantaran sungai atau di tempat yang basah; juga di hutan-hutan bambu yang kebetulan banyak ditemukan di sekitar lokasi proyek. Selain sebagai bahan anyaman bemban ternyata mempunyai khasiat lain seperti Daun bemban yang dapat dimanfaatkan sebagai obat bisul, mengempeskan bengkak, dan cairannya untuk tetes mata. Cairan yang keluar dari batang bemban yang masih muda dimanfaatkan untuk menyembuhkan gigitan ular.

 

WhatsApp Image 2025-11-17 at 09.48.18
Keterangan: Seorang Ibu sedang mengolah Bemban untuk dijadikan bahan anyaman

Batang bemban yang didapat kemudian dibuang bagian bukunya dan dicuci bersih, tahap selanjutnya batang bemban disayat atau dikupas memanjang bagian kulitnya yang berwarna hijau, nantinya kulit yang dikupas ini akan dijadikan bahan anyaman, bagian tengahnya (empulur) biasanya dibuang. Kulit bemban ini kemudian akan dijemur hingga warnanya berubah menjadi coklat mengkilap dan kuat sebagai bahan anyaman keranjang atau tikar. Kulit bemban ini kemudian akan dibuat menjadi sejenis keranjang anyaman kecil yang di Nanga Yen  disebut dengan Renjung, nantinya Renjung ini memiliki kegunaan sebagai wadah untuk penyimpanan dan mengangkut Ketika waktu memanen padi. Selain digunakan untuk keperluan pribadi, Renjung ini juga akan dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sebuah pengetahuan kerajinan turun temurun dengan proses yang membutuhkan ketelatenan yang dipraktikkan langsung oleh perempuan Nanga Yen. Kerajinan ini bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi menjadi alternatif ekonomi yang membantu keluarga bertahan. Selain bekerja dengan swadaya membangun irigasi demi kepentingan bersama, namun tetap menjaga perapian rumah tetap menyala melalui anyaman bemban yang mereka tekuni. Di sinilah keistimewaan perempuan Nanga Yen, mereka adalah pekerja lapangan, penggerak ekonomi, penjaga tradisi, sekaligus ibu rumah tangga yang penuh kasih. Mereka hadir sebagai simbol ketangguhan desa; perempuan-perempuan yang tak hanya menjadi tulang punggung membangun infrastruktur, tetapi juga merawat budaya dan penopang ekonomi keluarga yang menjaga kehidupan keluarga tetap berjalan.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *