Sumber ANTARA FOTOIGGOY EL FITRAi_11zon

(Oleh: M. Hermayani Putera)

Krisis ekologis yang melanda negeri ini bukan sekadar persoalan cuaca ekstrem, bencana beruntun, atau kerusakan alam yang kian tak terbendung. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah kita sendiri—wajah masyarakat yang nyaris seluruhnya beragama, tetapi masih membiarkan tanahnya terkoyak dan langitnya mengerang. Di negeri yang penuh dengan rumah ibadah, mengapa sungai tetap keruh, hutan tetap terbakar, dan laut tetap menjerit?

Pertanyaan ini tak bisa kita elakkan. Kita tekun beribadah, tetapi bumi tetap menderita. Statistik menunjukkan mayoritas penduduk negeri ini memeluk agama, namun grafik bencana terus menanjak. Ada yang patah di antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial-ekologis kita.

Masalahnya bukan pada ritualnya. Semua agama telah mengajarkan doa, puasa, sujud, sembahyang, dan meditasi—semua indah, semua luhur. Yang kurang adalah jembatan yang menghubungkan ritual itu dengan tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan. Kita fasih memuja Sang Maha Pencipta di ruang-ruang suci, tetapi sering gagal menghormati karya ciptaan-Nya begitu melangkah keluar. Kesalehan berhenti di ambang pintu rumah ibadah.

Inilah krisis teologis manusia modern: beragama dengan tekun, tetapi tidak memahami bahwa alam adalah ayat Tuhan yang terbentang; bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah; bahwa merusak bumi adalah bentuk pengingkaran spiritual.

Kita menjadikan agama sebagai ruang privat yang sunyi, bukan sumber etika publik. Kita menghidupkan ritual tetapi mematikan pesan moralnya. Kita sibuk menyempurnakan syariat yang tampak, tetapi mengabaikan syariat yang menuntut kita menjaga air, tanah, udara, hutan, dan sesama makhluk. Padahal kitab apa pun—dari langit Timur hingga Barat—menegaskan bahwa manusia diberi amanah, bukan hak istimewa untuk semena-mena.

Maka yang harus dibenahi bukan jumlah ibadah, melainkan kualitas kesadaran. Kita perlu memulihkan teologi relasi: bahwa manusia bukan pusat alam semesta, melainkan satu simpul kecil dalam jaringan kehidupan. Kita perlu menghidupkan kembali kesalehan yang mengalir dari ruang ibadah ke ruang publik—ke cara kita mengelola sampah, membeli barang, memotong pohon, merancang kota, membangun industri, hingga memilih pemimpin.

Rumah ibadah harus kembali menjadi pusat kesadaran ekologis—bukan hanya ruang ritual, tetapi ruang penyadaran bahwa iman selalu punya konsekuensi bagi bumi. Ceramah, khutbah, misa, pengajian, retret, dan setiap bentuk pembelajaran spiritual perlu menegaskan kembali bahwa ajaran agama tidak berhenti pada soal surga dan pahala, tetapi juga pada tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan yang kini terluka.

Pemimpin agama juga mesti berani menyebut kerusakan lingkungan sebagai dosa sosial—pelanggaran terhadap amanah besar untuk memelihara bumi. Sebaliknya, setiap upaya memperbaiki ekosistem harus ditempatkan sebagai bagian dari ibadah kolektif, laku spiritual yang nyata, bukan sekadar aktivitas tambahan yang dilakukan jika ada waktu dan anggaran.

Di level umat, kita perlu membangun spiritualitas keseharian yang membumi: merawat air, mempertahankan hutan, menanam pohon, mengurangi konsumsi yang tak perlu, menjaga tanah tempat kaki berpijak, merawat sungai–danau–laut yang menjadi sumber hidup, dan memelihara makhluk lain yang Tuhan percayakan untuk hidup berdampingan dengan kita. Kesadaran ekologis bukan lagi pilihan, melainkan bentuk konkret kesalehan yang menghubungkan iman dengan kehidupan.

Sebab ibadah yang hanya indah di lantai rumah ibadah, tetapi tak menyentuh tanah yang kita pijak, adalah ibadah yang kehilangan separuh maknanya. Dan bumi, dengan segala bencana yang terjadi, sedang mengingatkan kita: mungkin selama ini kita terlalu sibuk beribadah, sampai-sampai kita lupa bahwa alam juga sedang menderita.

Saatnya membawa ibadah yang tertinggal itu keluar pintu—kembali ke dunia, kembali ke bumi, kembali ke kehidupan yang harus kita jaga bersama.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *