86

(Oleh: M. Hermayani Putera)

Selalu ada rasa yang beda saat mudik. Perjalanan jauh, macet berjam-jam, atau ribetnya cari tiket. Atau buat Anda yang di Pontianak dan beberapa kota di Kalbar, cerita mudik tahun ini bertambah warnanya: antrean kendaraan berjam-jam mengisi BBM di SPBU.

Ada sesuatu yang pelan-pelan mengajak kita berhenti sebentar dari hiruk-pikuk hidup, lalu bertanya: sebenarnya kita ini sedang mengejar apa?

Di perjalanan pulang, tanpa sadar kita mulai melepaskan banyak hal. Tentang gengsi, pencapaian, ataupun hal-hal yang kadang kita banggakan di luar sana. 

Sampai akhirnya kita sampai pada satu titik kesadaran: dulu kita pulang ke rumah tanpa perlu jadi siapa-siapa, dan tetap diterima sepenuhnya. Oleh orangtua, saudara, bahkan tetangga dekat yang sudah seperti keluarga sendiri.

Rumah memang tidak selalu sempurna. Tapi di sanalah kita pertama kali belajar tentang hangatnya kebersamaan dan makna sebuah keluarga. Saat kita dipanggil dengan nama kecil tanpa gelar, pangkat, dan atribut lainnya. Pada momen makan bersama tanpa banyak formalitas, bahkan kadang cukup melantai dan lesehan. Juga tentang rasa “cukup” yang sering hilang ketika kita sudah jauh, ketika kita terseret jauh dalam jebakan mengejar ukuran-ukuran keberhasilan hidup.

Bagi yang orang tuanya masih ada, mudik itu menjadi momen yang mahal dan sangat berharga. Kadang kita baru sadar, wajah mereka sudah mulai berubah, bahu kekar itu kini mulai ringkih, dan langkah mereka tidak lagi secepat dan segagah dulu. Tapi ada satu hal yang tak berubah: cara mereka menunggu kita pulang.

Di situ mungkin kita mulai belajar menggantikan peran mereka. Pelan-pelan. Dari hal-hal kecil, seperti menyapa keluarga yang lebih tua, menghubungkan yang lama tak bertemu, menjaga agar silaturahmi tetap hidup. Hal-hal yang dulu kita kira biasa, ternyata justru itu yang paling berarti saat ini.

Sementara buat yang orang tuanya sudah tidak ada, mudik rasanya pasti berbeda.

Rumahnya mungkin tidak berbeda jauh, tapi rasanya tidak lagi sepenuhnya sama. Tidak ada lagi yang menyambut di pintu, tak lagi ada suara yang kita tunggu-tunggu dan rindukan. Tapi bukan berarti semuanya hilang.

Biasanya, kita tetap pulang, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih sunyi: makam.

Di sana, tidak banyak kata. Hanya doa, ingatan, dan rasa rindu yang tidak bisa dijelaskan. Kita mendoakan kedua sosok mulia tersebut, berharap mereka tenang di tempat terbaik di sisi Allah. Pada momen ini, tanpa disadari, kita seperti diingatkan: hidup ini tidak sepanjang yang kita kira.

Mudik bukan sekadar soal pulang ke kampung halaman, tapi juga seperti ruang jeda, yang membilas banyak kepura-puraan dan basa-basi hidup, kembali mengingatkan kita pada hal-hal yang paling dasar. Tentang makna keluarga, kebersamaan, dan menjadi diri sendiri tanpa perlu banyak atribut.

Di tengah dunia yang sering bikin kita merasa harus jadi “lebih”, mudik justru mengajak kita untuk kembali merasa “cukup”.

Dan mungkin, itulah yang selama ini kita cari. 

Pontianak, 25 Maret 2026

Our Social Media

1 thought on “Mudik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *