WhatsAppImage2025-07-08at10.21.39
Di negeri ini banyak tragedi yang berulang dan terus berulang. Sebuah tragedi yang terus berulang menandakan bahwa kita adalah bangsa yang bodoh.

Di negeri ini banyak tragedi yang berulang dan terus berulang. Sebuah tragedi yang terus berulang menandakan bahwa kita adalah bangsa yang bodoh. Mungkin lebih bodoh dari seekor keledai, yang tak bakalan terperosok dua kali dalam lubang yang sama.

Dan seringkali akibat kebodohan, nyawa manusia menjadi hilang. Kebodohan yang mematikan!

Perulangan Masalah dan Kebodohan

Korupsi yang terus terjadi berulang di badan usaha milik negara berpuluh tahun lamanya adalah sebuah kebodohan.

Money politik yang terus terjadi berulangkali dalam setiap pemilu yang mengakibatkan tingginya biaya politik dan rendahnya mutu kepemimpinan adalah sebuah kebodohan.

Pengrusakan hutan yang terus terjadi dan mengakibatkan Musibah banjir di desa dan di kota berulang kali adalah sebuah kebodohan.

Peredaran narkoba yang terus terjadi dan matinya puluhan ribu anak-anak muda setiap tahun adalah sebuah kebodohan.

Puluhan juta rakyat yang terjerat judi yang diselenggarakan para kriminal lewat internet bertahun-tahun lamanya adalah sebuah kebodohan.

Pencabulan dan rudapaksa yang terjadi berulangkali di lembaga pendidikan agama, dan sekolah-sekolah negeri dan swasta adalah sebuah kebodohan.

Termasuk pula perulangan tragedi tenggelamnya kapal motor penumpang yang telah merengut puluhan bahkan ratusan nyawa manusia adalah juga dampak dari kebodohan.

Orang bodoh lebih berbahaya dibandingkan orang jahat. Mungkin ada yang tidak sepakat dengan pendapat ini. Tapi mana yang lebih berbahaya seorang pemuda kasar yang mencopet emak-emak di pasar atau seorang pemuda santun yang disuruh jadi pilot pesawat jet penumpang padahal ia tak pernah belajar mengendarai pesawat?

Pemuda santun tapi bodoh itu tentu lebih berbahaya dibanding seorang penjahat yang mencopet tas emak-emak di pasar.

Kebodohan bukan disebabkan karena seseorang tak pernah sekolah, tapi disebabkan seseorang tak mau belajar dari pengalaman. Mata dan telinganya tertutup sehingga tak bisa memandang masa lalu, apalagi masa di hadapan.

Karena mata dan telinganya tertutup, orang bodoh seringkali tak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar (haq dan bathil). Ia juga seringkali tak bisa berpikir obyektif dan beku rasionalitasnya sehingga tak bisa membedakan mana yang betul dan mana yang keliru.

Dalam 40 tahun terakhir, orang-orang bodoh semacam ini semakin banyak diberikan amanah untuk mengurus urusan publik. Bahkan urusan yang menyangkut nyawa manusia. Orang seperti ini sangatlah berbahaya. Yang lebih berbahaya lagi adalah orang yang telah memberikan amanah kepadanya.

Saya mengucapkan rasa sedih dan duka yang teramat amat mendalam atas hilangnya nyawa penumpang KM Tunu Pratama. Saya sedih karena kapal itu tak diawasi dengan ketat. Saya sedih karena para korban terkatung-katung di laut tujuh jam lamanya, padahal hanya berjarak 200 M dari garis pantai.

Untuk kesekian kalinya, manusia tak berdosa menjadi korban karena kapal rongsokan tenggelam, dan layanan rescue yang lamban.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan kutipan dari J.Stalin, Presiden Unisoviet (1941-1953):

“Setiap orang punya hak untuk goblok. Tapi beberapa orang menggunakan haknya secara berlebihan”.

Berkahselaloe,
Beni Sulastiyo, ptk, 7.7.25

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *