Karena ia tahu, mass communication berbasis teknologi artificial intelligence akan dapat menggulung dengan mudah para politisi tua, yang tak hanya tolol tapi juga biadab. Saya yakin ia geram dengan kebijakan politik politisi tua yang dipimpin oleh Donald Trump. Betapa ga geram, baru saja kita move on dari tipuan pandemi yang meluluhlantakan ekonomi, tiba-tiba ia mengibarkan perang dagang. Banyak yang kena imbasnya, toko-toko yang produknya disupply barang murah-berkualitas dari China, tiba-tiba kacau. Bahkan perusahaan sekelas Apple pun terhuyung-huyung pula karena produk yang membuat produk-produk andalannya, semua berbasis di China.
Sementara si Trump, sang kapitalis 24 karat itu pasti dapat cuan yang banyak dari fluktuasi harga saham yang bisa ia setting melalui rencana-rencana kebijakannya yang random.
Psikologi masyarakat Amrik jadi sering terganggu. Sebab denyut jantung orang-orang di negara-negara kapitalis berkaitan erat dengan naik turun harga saham di bursa effect.
Dalam suasana jantung yang tak nyaman, tiba-tiba Trump yang rasis itu mengeluakan kebijakan untuk mengusir para imigran. Padahal para imigran adalah sumber energi murah yang menopang aktivitas bisnis di restoran-restoran, pabrik-pabrik skala kecil, dan perkantoran. Mana mau orang Amerika kerja cuci piring, ngantar makanan, jadi montir bengkel atau penjaga keamanan. Imigran dari Amerika Latin, dan Asia Selatan (india, Pakistan, Banglades) jadi andalan. Pusinglah para pengusaha di Amerika!
Protes pun merebak di mana-mana. Bahkan beberapa aksi protes diwarnai dengan pengrusakan dan penjarahan. Polisi Amerika lemburrrr ga bisa libur!
Lagi kacau-kacaunya, Eh Trump ikut-ikutan perang belain isriwil anak kesayangannya yang tak punya jiwa kemanusiaan itu. Setanyahu, buronan pengadilan internasional karena kebengisannya nembakin warga sipil di gaza, tiba-tiba merengek-rengek agar Trump memaksa Iran menghentikan serangan rudal balistiknya. Karena utang budi dengan pengusaha asal Isriwil, Trump tak punya pilihan. Iranpun dibombardir dengan pesawat tempur siluman.
Kebijakan ini sangatlah berbahaya. Kalau Iran ga mau ngalah, terus berkoalisi dengn rusia lalu membalas serangan itu dengan rudal balistik-hipersonik berkepala nuklir, gimana? Opo ra pecah ndase?
Tak hanya itu, Trump bikin ulah lagi dengan dengan menjejalkan RUU Fiskal yang berpotensi menambah utang negeri adikuasa itu trilyunan dollar amrik.
Ditengah badai kebijakan Trump, badai alam menerjang Amerika. Texas dilanda banjir. Rakyat sedih kehilangan harta benda. Ekonomi mandek!
Sementara anggota senat di parlemen bungkam karena duit oligarki telah menyumpal akal sehat mereka. Tak ada yang bersuara. Yang bersuara, televisi koran dan majalah punya oligarki semua. Sementara karena generasi old, sebagian tak punya kanal social media. Kalaupun ada, followernya tak seberapa.
Makanya, kemungkinan besar Elon Musk geram menyaksikan kondisi ini. Ia tahu harapan rakyat Amerika, ia tahu bisa menjawabnya dengan mudah dengan teknologi AI, ia tahu, walau sendiri ia bisa mengalahkan dengan mudah para politisi tua diparlemen yang tak punya tak punya daya lagi.
Tapi musk pasti mengalami dilema, antara apakah akan memanfaatkan peluang besar ini bersama salah satu partai tapi beresiko besar membuat publik kecewa. Atau membuat partai baru.
Dan setelah melakukan istikaroh rasional selama satu minggu dengan melakukan anaisis dan polling, Musk memutuskan membuat partai baru. Partai itu dinamakan dengan Partai Amerika, sebuah nama yang masih berbau republiken, partai lama Elon Musk.
Semoga di Indonesia, ada Pengusaha nasional kaya raya dan yang paham teknologi kekinian yang mau meniru keberanian Elon Musk. Kalau ada, saya akan ikut menjadi mujahid nya. Dengan teknologi satu orang mujahid berbanding seribu politisi tua berkepala batu. Berani diadu!
Berkahselaloe!
Bungben, ptk, 8.7.25