Sebuah tragedi yang terus berulang menandakan bahwa kita adalah bangsa yang bodoh. Mungkin lebih bodoh dari seekor keledai. Sebab keledai saja tak bakalan terperosok dua kali dalam lubang yang sama.
Di tengah tragedi tenggelamnya KM Tunu Pratama, jajaran Direksi PT. ASDP menjadi tersangka Korupsi. Termasuk Direktur utamanya. Mereka didakwa melakukan korupsi konspiratif sepanjang 2017-2023. Kerugian negara Rp 1,2 trilyun dari proses pembelian kapal. Brutal!
Pemimpin puncaknya korup! Di kepala nya pasti hanya harta saja, sementara nyawa manusia menjadi timbangan nomor empat puluh dua.
Maka, sepanjang 2017-2023 itu pula, telah terjadi belasan kali kecelakaan kapal penyeberangan. 200 orang lebih meninggal, ratusan lain hilang dan terluka. Terakhir KM Tunu Pratama di Selat Bali yang menewaskan 30 orang penumpangnya. Miris menyaksikannya.
Kejahatan yang dibiarkan terjadi berulang berarti dibiarkan. Berarti ada tindakan pembiaran.
Pembiaran kejahatan adalah sebuah kebodohan. Dan akibat kebodohan, nyawa manusia menjadi korbannya.
Kebodohan itu berbahaya. Kebodohan bisa menyebabkan orang lain jadi korban.
Dan di tengah-tengah kita saat ini, banyak orang bodoh yang mengelola urusan publik. Mereka membiarkan kejahatan terjadi tak hanya sekali. Tapi berkali-kali, bahkan berulangkali!
Ada belasan BUMN yang mengurus kemasahatan publik sebagian terjerat korupsi. Sayangnya Presiden dan menterinya tak pernah menunjukan rasa sesal yang mendalam. Anteng, senyam-senyum pasang muka polos glowing, seakan tak terjadi apa-apa. Warrrbiassah!
Kita harus lebih kritis dengan orang bodoh. Ingatkan jika keliru. Protes jika menyimpangi kebenaran. Itu harus dilakukan! Jika tidak bahaya! Nanti kamu yang jadi korban. Nanti kamu dan anak cucumu yang tenggelam!
Berkahselaloe
Bungben