banjir-rendam-jalan-cakungcilincing-lalu-lintas-tersendat-1769658909099_169

Ilustrasi. banjir di Jakarta (Foto: Pradita Utama/detikFoto)

Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)

(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode: 1980-1982)


Walau engkau bukan lagi ibu kota negara

Engkau tetap tempat berlabuhnya air bah

Muara dari segala lumpur dan sampah yang melimpah

Membuat penguasa menjadi gerah

Banjir Jakarta terus berulang

Genangan pekat dan kotor makin meluas

Cuaca ekstreem menanggung gugat

Perubahan iklim selalu dihujat


Orang pandai perdebatkan akibat

Tak temukan cara selesaikan penyebab

Kata indah teruntai seperti akrobat

Ramaikan seminar penanda beradab

Danau dan situ telah berubah wajah

Rumah manusia bertengger menggantikannya

Air hujan mengucur deras, mencari rumahnya yang telah hilang

Rumah air telah di rampas manusia


Air tak pernah murka pada manusia 

Ia hanya tanyakan hak-nya yang telah sirna

Air juga punya nyawa dan keluarga

Yang ingat jalan pulang menuju rumahnya

Jalan pulang air semakin berkurang

Yang tersisa, menjadi tempat sampah raksasa

Plastik dan barang organik penuhi gorong-gorong

Penghalang air menuju samudera


Para ahli gemar berdalil tentang daya tampung sungai

Hampir tak pernah menghitung tentang daya serap tanah

Tak mampu angkakan daya dukung lingkungannya

Panik ketika temukan angka pendangkalan karena sedimentasi


Bencana banjir tanggung jawab bersama 

Kotori sungai juga kebiasaan bersama

Mengumpat dan saling menyalahkan keahlian kita

Selesai banjir-pun kita segera lupa bersama


Banjir Jakarta tak pernah tunggu datangnya purnama

Ia tak mau diatur manusia

Banjir hanya ingin sekadar berkata

Kembalikan segera rumah air-ku


(Jakarta, 29 Januari 2026)

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *