Kalbar di Bawah Kepemimpinan Ria Norsan Sukses Turunkan Angka Stunting
Pontianak – Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) di bawah kepemimpinan Gubernur Ria Norsan dalam menekan angka stunting mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data aplikasi Sigizi Kesga, prevalensi stunting di Kalbar terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2024, angka stunting di Kalbar tercatat sebesar 14,04 persen. Angka tersebut turun menjadi 14,03 persen pada 2025 dan kembali menurun menjadi 13,56 persen pada Triwulan I 2026.
Penurunan ini menjadi indikator keberhasilan berbagai intervensi kesehatan yang terus diperkuat Pemprov Kalbar melalui Dinas Kesehatan, mulai dari peningkatan layanan gizi ibu dan anak hingga pemanfaatan sistem pencatatan digital berbasis aplikasi Sigizi Kesga.
Meski demikian, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting Kalbar masih berada di angka 21,08 persen dan ditargetkan turun menjadi 20 persen saat survei kembali dilakukan pada 2026.
Perbedaan angka tersebut disebabkan metode pengukuran yang berbeda. Sigizi Kesga merupakan data layanan kesehatan yang diperbarui secara berkala atau real time di fasilitas kesehatan, sedangkan SSGI merupakan survei nasional berbasis sampling yang menjadi rujukan resmi pemerintah pusat dalam menentukan prevalensi stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Erna Yulianti, mengatakan upaya penurunan stunting terus dilakukan secara konsisten meskipun terdapat perbedaan sumber data.
“Untuk stunting memang terdapat beberapa sumber data. Namun berdasarkan laporan real time di Sigizi Kesga, kita sudah mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, berbagai upaya penurunan tetap terus kami lakukan,” ujarnya.
Sepanjang 2026, sebanyak 104.791 ibu hamil di Kalbar telah menerima Tablet Tambah Darah (TTD) gratis melalui puskesmas dan posyandu. Selain itu, sebanyak 292.769 remaja putri menjadi sasaran konsumsi TTD di kabupaten/kota, dengan 198.340 di antaranya telah mengonsumsi sesuai standar minimal 26 tablet.
Pemprov Kalbar juga menjalankan program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dan balita gizi kurang melalui anggaran BOK puskesmas di daerah. Selain itu, dilakukan promosi ASI eksklusif dan MPASI bergizi, pemantauan tumbuh kembang balita melalui layanan posyandu, hingga penanganan medis balita gizi buruk dan stunting di RSUD Kalbar.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga terus diperkuat melalui konseling gizi di posyandu serta kampanye kesehatan ibu dan anak di seluruh puskesmas dan posyandu di Kalimantan Barat.
Saat ini, aplikasi Sigizi Kesga telah digunakan 100 persen di seluruh puskesmas kabupaten/kota di Kalbar sebagai sistem pencatatan, pelaporan, dan pemantauan capaian program secara real time. Melalui sistem ini, potensi kasus stunting baru dapat dideteksi dan diintervensi lebih cepat di lapangan.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemprov Kalbar optimistis penurunan angka stunting dapat terus dipercepat guna menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas di masa mendatang.
