1Jun202611.55.3

(Oleh: Al-Fakir)

Madinah sedang berperang.

Tahun ke – 9 Hijriah. Rasulullah baru saja mengumumkan ekspedisi tabuk. 

Perjalan terpanjang dan terberat yang pernah beliau pimpin.

Ditengah kesibukan itu, sekelompok lelaki datang dengan permintaan yang terdengar sangat mulia.

Mereka ingin membangun masjid.

Dengan wajah khusuk mereka datang, masjid itu utk jemaah yang lemah, musyafir yang lelah, warga pinggiran yang jauh dari masjid Nabawi.

Rusulullah mengijinkan membangun masjid itu, bangunan itu selesai, dan mereka memberi nama Masjid Dhirar. Yang artinya Merugikan, dalam bahasa arab. Nama yang aneh untuk sebuah masjid.

Selama ini kita mengira kemunafikan itu mudah dikenali. Bahwa niat jahat pasti terbaca dari gerak gerik yang mencurigakan.

Faktanya orang-orang yang membangun masjid Dhirar terdengar sangat ikhlas.

Mereka menyebut nama Allah, bicara tentang kepedulian sesama, dan meminta ijin dengan santun dan tidak ada yang curiga.

Namun dibalik itu semua, itu terpendam tiga niat yang tidak pernah mereka ucapkan.

1. Memecah barisan kaum muslimin agar tidak bersatu di belakang satu imam.

2. Menjadikannya markas bagi orang yang ingin melemahkan islam dari dalam.

3. Menyambut kedatangan musuh nabi Muhammad yang sedang menunggu dari luar kota.

Bangunan itu bukan masjid ia adalah senjata.

Masjid itu berdiri dan mulai di gunakan.

Lalu ketika Nabi kembali dari Tabuk ke Madinah, Jibril turun membawa wahyu.

Bukan tentang hukum, bukan tentang ibadah.

Tentang sebuah bangunan yang tampak seperti rumah Allah, tapi sesungguhnya adalah rumah kerusakan.

“Dan diantara mereka ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana,kekafiran,dan untuk memecah belah diantara orang-orang beriman.”(QS. At-Taubah:107).

Satu ayat. 

Niat mereka tersembunyi selama berbulan- bulan dibongkar langsung oleh Allah.

Bukan cuma di bongkar. 

Diabadikan dalam Al-Qur’an yang akan dibaca sampai hari kiamat.

Lalu datang perintah Allah, Rasulullah diperintahkan untuk tidak pernah shalat disana. Tidak pernah berdiri di dalamnya.

Dan masjid Dhirar dibakar, lalu diratakan dengan tanah.

Tempat yang dibangun dengan nama Allah, dihancurkan atas perintah Allah.

Bangunan itu punya mihrab,azan,punya nama yang terdengar seperti tempat ibadah.

Tapi Allah “tidak melihat” nama yang tertera di dindingnya.

Hari ini, bendera agama bisa di kibarkan diatas agenda yang tidak islam!. Kata-kata suci bisa di pakai memecah belah yang seharusnya bersatu.

Kisah ini bukan cuma tentang orang munafik di jaman Nabi.

Ia adalah pengingat, bahwa niat yang tersembunyi di setiap tindakan kita, Allah tidak pernah tidak melihatnya.

Mungkin hari ini ada sesuatu yang kita lakukan atas nama kebaikan, tetapi di dalamnya ada kepentingan yang belum kita akui.

Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak dan bertanya ; ” ini benar-benar untuk siapa?”

Masjid Dhirar tidak bertahan. Bukan karena bangunanya rapuh. Tapi karena pondasinya salah.

Di dalam Al-Qur’an menyebutnya di bangun “ditepi jurang yang runtuh, lalu runtuh pula bersamanya.”(QS. At-Taubah 109)

Hanya amal yang dibangun di atas niat yang benar yang akan bertahan. Sisanya runtuh, cepat atau lambat.

Sumber:QS. At-Taubah 107-110, tafsir Ibnu Katsir, Sirah Ibnu Hisyam.

Barakallahu fikum aj’main.

Sukamiskin

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *