WhatsApp Image 2026-06-22 at 14.02.57

Pontianak, 22 April 2026 – Semangat kebersamaan yang mengemuka saat Musyawarah Alumni IAFT (Musta) beberapa waktu lalu kini diharapkan tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Sejumlah alumni senior menyampaikan harapan agar komunikasi dan kolaborasi antara pengurus baru dengan senior terus terjaga pasca terbentuknya kepengurusan di bawah Ketua Irwan TS’93.

Acara Musta yang berlangsung meriah dinilai berhasil membangkitkan kembali semangat kebersamaan antara yunior dan senior. Keterlibatan alumni senior saat Musta cukup tinggi, dengan tujuan utama memperkuat IAFT sebagai wadah perjuangan alumni demi menjaga eksistensi organisasi.

“Waktu Musta, pintu kolaborasi dibuka lebar. Senior turun gunung, meninggalkan kesibukan demi satu tujuan: membangkitkan semangat kebersamaan. Kesepakatannya jelas, IAFT ini rumah kita semua,” ujar Mei Purwowidodo, alumni IAFT tahun 1981, dalam pernyataannya, Senin(22/6)

Namun pasca terbentuknya pengurus baru, sebagian senior merasakan komunikasi yang sebelumnya cair menjadi terbatas.

Kesan menjaga jarak dari pengurus baru menimbulkan kekhawatiran akan terputusnya jembatan penghubung yang sudah dibangun.

Para senior menegaskan kehadirannya bukan untuk melakukan intervensi, melainkan sebagai bentuk kepedulian berdasarkan pengalaman. Kedekatan yang terbangun pada masa kepengurusan sebelumnya di bawah Ketua Sumarno menjadi salah satu faktor tingginya partisipasi senior pada Musta lalu.

“Sekarang tongkat estafet sudah di tangan Irwan TS’93. Kami ucapkan selamat dan sukses.

Bagi senior, ini kemajuan. Anak muda diberi kemudi dan tanggung jawab. Senior ikhlas menjadi ‘penjaga mercusuar’, asal kapal tidak menabrak karang karena nakhoda belum memiliki banyak pengalaman,” lanjut Mei.

Pembelajaran Bersama Pasca Musta

Mei Purwowidodo menyampaikan tiga poin pembelajaran untuk menjaga soliditas IAFT ke depan:

1. Bagi Pengurus Baru: Senior bukan “bayang-bayang masa lalu”, melainkan GPS organisasi. Pengalaman mereka dapat meminimalkan kesalahan. Dialog dan konsultasi akan meningkatkan kualitas keputusan, bukan mengurangi wibawa pengurus.

2. Bagi Senior: Kepedulian harus dijaga meskipun kesibukan dunia kerja menumpuk. Sikap apatis akan merugikan organisasi. Peran senior kini adalah mengawal, bukan mengendalikan.

3. Untuk IAFT: Organisasi ibarat rumah. Pengurus baru sebagai penghuni, senior sebagai pondasi. Rumah akan kokoh jika pondasi dirawat dan penghuni rajin menjaga.

“IAFT butuh yunior yang berlari di depan dan senior yang menjaga di belakang. Musta sudah selesai, sekarang tugas kita menjaga apinya tetap menyala, bukan hanya saat pesta, tapi setiap hari,” tutupnya.

Sangat disayangkan jika pengurus baru IAFT seperti ingin menyampingkan tradisi ikatan emosional antara senior dan yunior yang telah berlaku di alumni fakultas Teknik Untan hingga saat ini.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *