Memotret Ulang Potensi Ekonomi Desa: Asesmen Komoditas Lokal oleh Swandiri Inisiatif Sintang di Kabupaten Melawi
Dalam upaya memperkuat gerakan ekonomi masyarakat berbasis komoditas, Swandiri Inisiatif Sintang (SIS) dengan dukungan lembaga Gemawan melaksanakan kegiatan asesmen komoditas lokal dan kelembagaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Melawi. Kegiatan yang berlangsung pada Maret hingga Juli 2025 ini menjangkau 10 desa di beberapa kecamatan dan menjadi langkah awal dalam merancang strategi penguatan ekonomi komunitas secara inklusif dan berbasis data lapangan.
Asesmen dilakukan melalui metode wawancara langsung dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta kunjungan ke lokasi pertanian dan perkebunan masyarakat. Fokus utama asesmen mencakup potensi komoditas unggulan, struktur kelompok tani, peran kelembagaan desa seperti BUMDes, serta hambatan yang dihadapi masyarakat dalam produksi dan pemasaran hasil tani.
Potensi Besar, Struktur Lemah
Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar desa di Melawi memiliki potensi komoditas yang layak dikembangkan, seperti padi, semangka, sayuran, jengkol, hingga karet. Beberapa desa, seperti Tanjung Sari, menunjukkan kapasitas produksi sayuran yang menjanjikan, sementara Desa Manggala mencatat produksi jengkol dan padi yang cukup besar. Namun, potensi ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Permasalahan utama yang ditemukan adalah lemahnya kelembagaan kelompok tani. Banyak kelompok yang tidak aktif, hanya digunakan sebagai syarat administratif untuk memperoleh bantuan. Di beberapa desa, kelompok tani tidak memiliki struktur organisasi, rencana kerja, atau kegiatan produksi yang berjalan. Hal ini menyebabkan ketergantungan tinggi pada bantuan luar, serta tidak adanya kekuatan kolektif dalam mengakses pasar maupun sumber daya.
Sementara itu, kehadiran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) belum sepenuhnya optimal. Di sejumlah lokasi, BUMDes masih dalam tahap rencana atau baru bergerak di bidang simpan pinjam tanpa keterhubungan langsung dengan sektor pertanian desa. Padahal, dalam skema pengembangan ekonomi desa, BUMDes seharusnya berperan sebagai penggerak dan penghubung antara petani dan pasar.
Tersusunnya Peta Awal Gerakan Ekonomi Komunitas
Melalui asesmen ini, tim berhasil mengidentifikasi:
- Profil komoditas utama di masing-masing desa, termasuk volume produksi, biaya, dan pola distribusi;
- Struktur kelembagaan ekonomi lokal yang ada (aktif/tidak aktif, jenis, fungsi);
- Hambatan utama dalam penguatan ekonomi lokal, mulai dari keterbatasan alat produksi hingga ketergantungan pada tengkulak.
Lebih dari sekadar pendataan, kegiatan ini membangun ruang dialog antara SIS, pemerintah desa, dan masyarakat. Proses ini mendorong refleksi kritis di tingkat lokal, serta membuka ruang kemungkinan kerja sama lintas aktor dalam pengembangan ekonomi desa.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Bantuan
Dari temuan lapangan, SIS memberikan beberapa rekomendasi strategis untuk mendorong gerakan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan:
- Revitalisasi Kelompok Tani dan Kelembagaan Ekonomi Lokal
Diperlukan penguatan struktur, pendampingan berkelanjutan, serta penyusunan rencana kerja agar kelompok tani benar-benar berfungsi sebagai ruang kolektif produksi dan distribusi. - Optimalisasi Peran BUMDes dalam Sektor Pertanian
BUMDes perlu diarahkan untuk menjembatani petani dengan pasar, memfasilitasi akses permodalan, dan membantu pengelolaan pascapanen yang efisien. - Pemetaan dan Diversifikasi Komoditas
Dengan memahami siklus tanam, risiko, dan peluang pasar, petani didorong untuk mengembangkan lebih dari satu jenis komoditas agar tidak tergantung pada satu sumber pendapatan. - Konektivitas Pasar dan Informasi
Membangun jejaring pemasaran alternatif serta meningkatkan akses petani terhadap informasi harga dan permintaan pasar akan memperkuat posisi tawar mereka.
Potensi yang Butuh Keberpihakan
Kegiatan asesmen yang dilakukan Swandiri Inisiatif Sintang dengan dukungan Gemawan membuka realitas penting bahwa ekonomi desa tidak hanya soal produksi, tetapi juga tentang sistem yang menopang produksi itu sendiri. Kelembagaan yang sehat, akses pasar yang adil, dan kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dari gerakan ekonomi yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.
Dengan data dan pengalaman yang terkumpul dari kegiatan ini, SIS berkomitmen untuk melanjutkan pendampingan berbasis kebutuhan lokal dan mendorong lahirnya gerakan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkeadilan sosial.
