
Hasil asesmen komoditi yang dilakukan oleh Swandiri Inisiatif Sintang melalui dukungan Gemawan di 10 Desa menunjukkan bahwa tanaman sawit telah menjadi potensi utama yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di desa. Namun di beberapa desa masih gencar melakukan pengembangan terhadap perekonomian melalui bertanam sayur dan padi sawah. Seperti Desa Manggala yang masih melakukan aktivitas pertanian padi sawah dan Desa Tanjung Sari yang dengan gencar melakukan penanaman sayur-mayur dengan cara hidroponik.
sayuran dan jagung menjadi tulang punggung perekonomian Desa Tanjung Sari. Kedua komoditi ini tidak hanya menjadi sumber pangan bagi warga, tetapi juga berpotensi besar dikembangkan sebagai penggerak ekonomi berbasis desa (village-based commodity). Dengan pengelolaan yang tepat, Tanjung Sari dapat menjadi contoh sukses pembangunan pedesaan yang mandiri dan berkelanjutan.
Potensi Sayuran dan Jagung di Tanjung Sari
Berdasarkan data terbaru, petani di Tanjung Sari menghasilkan rata-rata 2-3 ton sayuran per hektar setiap musim, termasuk sawi, kangkung, cabai, tomat, dan terong. Sementara itu, jagung mencapai produktivitas 5-7 ton per hektar dengan sistem tanam semi-mekanis.
Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Beberapa tantangan yang dihadapi petani antara lain:
Mengapa Komoditi Berbasis Desa Penting?
Konsep village-based commodity menekankan pada penguatan ekonomi desa melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Di Tanjung Sari, hal ini dapat dilakukan dengan:
Dampak Positif bagi Masyarakat
Apa yang Bisa Dilakukan?
Kesimpulan
Sayuran dan jagung bukan sekadar komoditas pertanian biasa, mereka adalah aset strategis bagi kemajuan desa di Kabupaten Melawi. Dengan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari hulu (budidaya) hingga hilir (pemasaran), desa dapat dapat menjadi contoh keberhasilan pembangunan berbasis potensi lokal.