Bertahun – tahun lalu, di tengah malam yang sepi dan hangat di sudut Kapuas Raya (wacana pemekaran provinsi baru yang tak jadi-jadi), saya dan beberapa kawan IMM duduk melingkar di sekretariat sederhana kami. Bukan malam diskusi terjadwal, bukan pula rapat program kerja. Tapi malam itu menjadi salah satu peristiwa yang paling membekas dalam hidup dan perjuangan kami. Sebab pada malam itu, kami untuk pertama kalinya berbicara soal “mengapa kita bergerak”, bukan sekadar “apa yang akan kita lakukan.”
Diskusi yang awalnya ngalor-ngidul, tiba-tiba berubah menjadi dalam ketika salah satu kawan mengangkat buku Islam sebagai Ilmu karya Kuntowijoyo. Di sanalah kami berkenalan dengan gagasan intelektual profetik—sebuah konsep yang kemudian kami sepakati menjadi fondasi berpikir dan bergerak dalam organisasi.
Menemukan Ruh: Tiga Pilar yang Menghidupkan Gerakan
Kuntowijoyo menjelaskan bahwa intelektual profetik adalah sosok yang tidak hanya berpikir kritis dan akademis, tetapi juga memiliki misi moral, spiritual, dan sosial. Berpijak pada nilai-nilai kenabian, intelektual profetik membawa tiga pilar utama: humanisasi, liberasi, dan transendensi.
Kami mencoba menerjemahkan konsep itu ke dalam bahasa gerakan kami:
Humanisasi
Kami mulai mempertanyakan: sudahkah gerakan kami memanusiakan? Kami bukan sekadar menggelar pelatihan dan seminar, tapi apakah kami sudah mendampingi masyarakat yang tertindas? Maka lahirlah gerakan kecil: mendampingi pedagang kecil yang hendak digusur, mengajar anak-anak yang putus sekolah, dan hadir sebagai teman, bukan penyelamat.
Liberasi
Kami menyadari, IMM bukan hanya ruang kaderisasi, tapi juga arena pembebasan. Kami tidak cukup hanya menjadi organisator yang rapi. Kami perlu menjadi pembebas dari kemiskinan berpikir, dari ketakutan struktural, dan dari sistem-sistem yang mengabaikan keadilan. Maka, kami mulai bersuara terhadap kebijakan kampus yang tak adil, mengkritisi praktik oligarki mahasiswa, bahkan sesekali turun ke jalan.
Transendensi
Di antara semua itu, ada satu hal yang menjadi jangkar kami: iman. Kami percaya bahwa tanpa kesadaran spiritual, semua gerakan kami bisa kehilangan arah. Maka kami tidak pernah melupakan bahwa setiap langkah aktivisme kami adalah bagian dari penghambaan ibadah dalam arti yang paling nyata.
IMM dan Jalan Sunyi Kenabian
Bagi kami, menjadi intelektual profetik bukan berarti menjadi nabi kami bukan utusan Tuhan. Tapi kami berusaha mengikuti jejak nilai-nilai kenabian: berpihak kepada kaum tertindas, menyuarakan kebenaran, dan menjaga integritas dalam badai dunia yang keras.
Kami menyadari bahwa jalan ini tidak populer. Ia jalan sunyi. Tak semua orang memahami mengapa kami memilih turun ke jalan, menulis dengan nada tajam, atau membela orang-orang yang bahkan tidak mengenal kami. Tapi kami percaya, seperti kata Kuntowijoyo, bahwa ilmu bukan untuk kontemplasi saja, tapi untuk emansipasi. Bahwa keilmuan dan gerakan harus menyatu dalam keberpihakan pada kebenaran dan keadilan.
Kesadaran yang Tetap Menyala
Sekarang, tahun-tahun telah berlalu. Kami tak lagi satu sekretariat, beberapa kawan sudah pulang ke kampung, ada yang sibuk di pemerintahan, ada yang masih terus bergerak di jalanan. Tapi saya percaya, malam itu yang sederhana di Kapuas Raya telah mengubah arah hidup kami.
Kami belajar bahwa gerakan tanpa ruh hanya menjadi rutinitas. Dan ruh itu kami temukan dalam sebuah konsep yang mereka sebut sebagai “intelektual profetik”.
Bukan hanya konsep. Tapi cara hidup.
Penutup
“Ilmu yang tidak membawa pembebasan adalah ilmu yang kehilangan roh.” – Kuntowijoyo
Kalimat itu tidak hanya kutipan dalam makalah kami. Tapi menjadi cermin dalam setiap langkah. Ia mengingatkan bahwa menjadi kader IMM bukan hanya perkara lulus Darul Arqam. Tapi tentang menyatu dengan nilai-nilai yang lebih dalam: memanusiakan, membebaskan, dan mengabdi kepada Allah.
Penulis : Abangda, Aldo Topan Rivaldi (Bang Long) Seorang kader PC IMM Kapuas Raya yang pernah merasakan manis getirnya menghidupkan gerakan dari tanah pinggir, dan masih percaya bahwa ruh intelektual profetik akan terus menjadi cahaya jalan para pejuang sunyi.
