SumberfotoRRISintangDanindraSit
Pemerintah kabupaten Sintang harus lebih menyelidik akar masalah dari inflasi, bukan menghadapi inflasi dengan event lomba menanam cabe.

Tanam cabai antar kantor pemerintahan dan kelurahan jadi lomba yang diselenggarakan oleh Bupati Sintang baru-baru ini dengan nama “Takin Keren” pada 21 Juli 2025 di Kantor Camat Sintang. Ujar Subendi Ketua TPID Kabupaten Sintang, yang juga Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sintang“. Lomba ini bertujuan untuk mengendalikan inflasi di Sintang, khususnya komoditas cabai yang selama ini harganya fluktuatif dan menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. “Kami ingin mendorong ASN untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok, seperti cabai, secara mandiri.”

Pertanyaannya apakah upaya seperti ini benar-benar dapat memecahkan persoalan inflasi akibat harga pasar komoditas cabai yang fluktuatif setiap tahunnya? kita juga perlu mengingat kembali himbauan untuk menanam cabai yang disampaikan oleh Melkianus wakil bupati Sintang periode pemerintahan sebelumnya, sebagai tindak lanjut Surat Edaran Bupati Sintang Nomor 050/5565/EKBANG tanggal 15 September 2022 Tentang Percepatan Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Tahun Anggaran 2022 dalam rangka Pengendalian inflasi di Kabupaten Sintang dan Surat Bupati Sintang Nomor 500/6352/EKBANG tanggal 4 Oktober 2022 Perihal Laporan Penanaman Cabai terang Wakil Bupati Sintang.

Seperti agenda tahunan aksi tanam cabai tidak pernah benar-benar menjadi solusi pengentasan permasalahan yang sebenarnya lebih kompleks daripada sekedar menanam cabai di pekarangan rumah. Kita malah diperlihatkan kecacatan logika pemerintah daerah dalam menangani persoalan tahunan ini seperti overgeneralisasi solusi mikro untuk masalah makro yang mana produksi rumahan tidak cukup signifikan untuk menurunkan harga cabai secara keseluruhan di pasar, apalagi agenda-agenda tanam cabai ini lebih gembar-gembor di kalangan ASN yang jumlahnya hanya sekian persen dari populasi Kabupaten Sintang. 

Lagipula inflasi bukan sekedar masalah produksi, ada banyak tantangan yang masih dialami oleh para petani cabai seperti biaya produksi dan logistik, cuaca ekstrem, spekulasi pasar, dan harga pupuk serta fasilitas pendukung produksi lainnya, sehingga menanam cabai tidak benar-benar menyentuh akar permasalahan sebenarnya. oh iya belum tentu juga semua orang mau menanam, asumsi seragam bahwa semua rumah tangga punya akses dan kemauan adalah tipikal cara berpikir tokoh pemimpin yang gamau ribet, apalagi mereka tahu sendiri populasi terbanyak kabupaten sintang tinggal di wilayah perkotaan yaitu kecamatan sintang, mereka tahulah jumlah DPT nya berapa.

Kemudian himbauan dan lomba hore-hore ini mengabaikan aspek keberlanjutan dan stabilitas. Tanaman cabai musiman, rentan penyakit, dan hasil panennya tidak stabil. Bahkan jika masyarakat berhasil menanam serempak, panen massal dalam waktu singkat bisa menimbulkan lonjakan pasokan temporer yang diikuti oleh kelangkaan berikutnya.

terakhir fokus ini sempit hanya pada satu komoditas Inflasi mencakup harga-harga barang dan jasa lain, bukan hanya cabai. Menekan harga cabai saja tidak serta merta menurunkan tingkat inflasi secara keseluruhan jika harga beras, BBM, transportasi, dan lainnya tetap naik. ya selemah-lemahnya upaya, menanam cabai di pekarangan rumah bisa menjadi langkah edukatif atau bentuk ketahanan pangan keluarga, tetapi bukanlah strategi efektif untuk pengendalian inflasi, jadi kita hanya bisa berserah dan kurang-kurangin makan cabai seperti anjuran presiden kita Prabowo Subianto “saran saya jangan terlalu makan pedas”.

Pemerintah kabupaten Sintang harus lebih menyelidik akar masalah dari inflasi, bukan menghadapi inflasi dengan event lomba menanam cabe. Jika TPID kab Sintang tidak cukup memiliki pengetahuan untuk isu ini, mereka dapat mengundang ahli ekonomi untuk diajak  merumuskan langkah langkah strategis dalam menekan inflasi. Melihat persoalan inflasi daerah lebih komprehensif dan mendalam sehingga menjadi prioritas rencana pembangunan yg lebih serius untuk mengurusi produksi komoditi di kabupaten.

Penulis: Pijaraya

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *