ChatGPTImage5Agu202514.55.5
Akhir-akhir ini, aktivitas pendakian semakin marak di kalangan anak muda Kalimantan Barat. Gunung dan bukit yang dulu sunyi kini ramai dikunjungi, menjadi latar swafoto, konten viral, dan ajang pencarian eksistensi.

Akhir-akhir ini, aktivitas pendakian semakin marak di kalangan anak muda Kalimantan Barat. Gunung dan bukit yang dulu sunyi kini ramai dikunjungi, menjadi latar swafoto, konten viral, dan ajang pencarian eksistensi. Namun, di balik geliat ini, muncul pula kekhawatiran akan arah dan makna pendakian yang mulai bergeser.

Pendakian adalah aktivitas serius yang menuntut persiapan matang dan pengetahuan yang cukup. Sayangnya, keseriusan itu kian lama terasa semakin bercanda. Banyak pendaki masa kini datang tanpa kesiapan, baik secara fisik, teknis, maupun mental. Mereka lebih terdorong oleh tren media sosial daripada oleh pemahaman akan alam dan resikonya.

Sosial media telah menciptakan ilusi: perjalanan yang tampak indah di layar seringkali menyembunyikan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Visual yang memanjakan mata, latar awan dan senja, cukup untuk mendorong banyak orang mempertaruhkan keselamatan mereka demi satu hal yaitu viral. Di sinilah muncul paradoks ketika citra diri menjadi lebih penting daripada perjalanan itu sendiri.

Kebutuhan akan validasi dan popularitas menciptakan efek berantai yang tak terhindarkan. Fenomena ini dikenal sebagai Bandwagon Effect, di mana orang ikut-ikutan melakukan sesuatu karena melihat banyak orang melakukannya, bukan karena benar-benar memahami makna atau risikonya. Inilah yang mendorong meningkatnya jumlah pendaki muda yang mungkin belum memahami secara utuh apa yang mereka hadapi di alam bebas.

Tentu saja, memaknai pendakian dan memanfaatkan teknologi adalah hak setiap individu. Namun kita juga perlu mengingat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Apa yang kita lakukan dan kita bagikan akan mempengaruhi orang lain, entah dampaknya besar atau kecil. Di titik ini, tanggung jawab personal dan sosial seharusnya berjalan beriringan.

Sudah saatnya kita lebih mindful dalam bertindak. Menikmati alam bukan sekadar berburu puncak dan konten media sosial, melainkan menyadari keterhubungan antara dunia nyata dan dunia maya. Alam bukan panggung kosong untuk pertunjukan digital, tetapi ruang kehidupan yang menuntut respek dan kesadaran.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang pendaki Kalimantan Barat di Bukit Bawang. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa di hadapan alam, kita hanyalah makhluk kecil dan rapuh. Semoga kedepan, kita bisa lebih bijak dalam melangkah, lebih sadar dalam berbagi, dan lebih tulus dalam memaknai setiap perjalanan.

 

Oleh: RQefendi

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *