(Oleh: Al – Fakir)
Memilih jauh setelah memaafkan, bukan karena keras hati, itu cara menjaga diri, agar hati tetap selamat dalam penjagaan Allah.
Tidak semua orang yang kita maafkan harus kita dekatkan kembali.
Kadang Allah ingin kita sembuh dari jauh.
Memaafkan itu ibadah.
Menjaga jarak itu ihktiar.
Keduanya tidak bertentangan.
Justru itulah tanda bahwa kita menghargai hatimu yang Allah titipkan.
Firman Allah ;
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka( dengan kata-kata yang menyakitkan ) mereka mengucapkan: Salam.”( QS. Al-Furqan 63 )
Ayat ini menggambarkan bahwa hamba Allah yang lembut hatinya memilih berlaku baik, bukan membalas.
Kadang cara terbaik adalah menjaga diri dengan tenang, bukan terus berada di lingkaran yang melukai.
Memaafkan tidak selalu berarti kita harus kembali dekat.
Kadang jarak adalah bentuk syukur karena kita belajar dari luka.
Sabda Rasulullah ;
“Janganlah kalian membahayakan diri kalian sendiri.”(HR. Ahmad. No.20767. Shahih)
Menjaga jarak dari orang yang menyakiti adalah bentuk perlindungan diri yang diajarkan syariat.
Islam tidak meminta kita bertahan dalam luka.
Beberapa orang aman di hati, tapi tidak aman di kehidupan.
Kita boleh menjaga jarak selama hati kita tetap bersih.
Kadang Allah menjauhkanmu karena Dia tahu sesuatu yang tidak kamu lihat.
Dan itu juga bentuk rahmat-Nya.
Menjauh setelah memaafkan bukan berarti kita membenci.
Itu tanda kita mencintai diri kita dengan cara yg Allah ridha.
Tidak semua hubungan harus dipaksa pulih
Tidak semua orang harus kembali dekat.
Beberapa jauhnya adalah jawaban dari doa-doa panjangmu.
Jarak yang dijaga dengan hati yang bersih lebih Allah cintai daripada kedekatan yang penuh luka.
Kita tidak berdosa karena memilih aman.
Allah tidak membebanimu untuk terus berhadapan dengan yang menyakiti.
Memaafkan itu untuk hatimu,
Menjauh itu untuk keselamatanmu
Bertawakal itu untuk ketenanganmu.
Allah Maha Tahu semuanya.
Barakallahu fikum aj’main