696edd471c587

Foto udara banjir merendam permukiman dan persawahan di Desa Karangligar, Telukjambe, Karawang, Jawa Barat, Senin (19/1/2026). Berdasarkan data BPBD Karawang, banjir yang dipicu curah hujan tinggi serta meluapnya Sungai Sungai Citarum dan Sungai Cibeet berdampak kepada 6.596 warga di 13 kecamatan. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/app/tom.(ANTARA/Darryl Ramadhan)

Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)

(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, periode: 1980-1982)


Tangan halus di iringi senyum yang mencipta

Sepotong patahan surga  jatuh ke bumi

Semua sempurna, indah dan mempesona

Embun tebal selimuti puspa berwarna warni


Itulah bumi Parahiyangan yang selalu riang 

Itulah tanah Pasundan yang selalu memberi kehidupan 

Dalam waktu panjang selama berabad 

Hidupi jutaan rakyat mengisi umur


Bukit terjal tertutup Pinus rapat yang menghijau

Sabuk  alam lindungi tanah subur di bawahnya 

Berpuluh tahun bertahan selamatkan rakyat dari bencana

Menahan banjir dan runtuhan batu hitam


Mata terbelalak, bukti tak percaya

Guyuran hujan tak mampu di tadah lagi

Akar pohon tercerabut tak berampun

Korban mulai jatuh tak sempat mengerang


Pinus hijau menggelinding hantam bangunan 

Batu tajam menghujam kencang ke bawah

Lumpur pekat menimbun apapun di lewatinya  

Angka kematian segera menyebar hiasi berita


Banjir kali ini telah berteman dengan longsor

Ia mengabarkan bahwa Pinus semakin berkurang

Ia bercerita bahwa tiang beton telah menembus tebing

Ia menangis karena manusia makin sakiti alam


Bumi Parahiyangan meradang menahan sakit

Saat buminya tersayat dan luka menganga

Derasnya air mata berubah menjadi banjir

Isak tangisnya berubah menjadi batu besar menggelinding


Bukit terjal dan hutan rimba adalah Ibu-ku

Saatnya kita merawat Ibu yang telah mensejahterakan kita

Kembalikan rimba Pinus tegak berdiri

Kembalikan tanah berhumus subur pada tempatnya


(Tepian Sungai Kapuas, 25 Januari 2026)

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *