Sedang heboh pengibaran bendera one piece, sebuah bendera berlatar hitam dengan icon tulang dan tengkorak manusia menggunakan topi jerami. Bendera adalah simbol. Dalam ilmu semiotika, simbol adalah sebuah tanda (sign). Dan setiap tanda selalu mengandung pesan.
Berbeda dengan tanda berupa icon dan index yang lebih mudah dipahami maknanya, simbol baru bisa dipahami dari yang membuatnya, jadi tak bisa dipahami secara bebas seperti kita memahami icon berupa foto Presiden RI atau indeks berupa grafik yang menggambarkan naik turunnya angka kemiskinan.
Karena bendera one piece adalah simbol, maka kita harus memahami makna bendera one piece itu dari pembuatnya, lalu mempelajari makna dari bendera itu bagi para penggunannya.
Dua lembar kain segi empat berwarna merah dan putih yang disusun atas bawah bagi masyarakat Indonesia dipahami sebagai simbol negara. Ada sejarah di balik kain itu. Lalu ada perlakuan-perlakuan khusus bagi kain itu. Maka, masyarakat Indonesia akan marah jika kain dua warna itu, semisal, diinjak-injak oleh tentara kamboja.
Padahal yang dinjak hanya kain. Bukan kepala kita.
Nah, demikian salah satu uniknya simbol. Simbol bukanlah realitas, tapi hanya tanda. Tanda yang punya makna spisifik yang disepakati oleh sekelompok masyarakat tertentu.
Kembali kepada bendera One Piece. Apa maknanya? Untuk memahaminya, kita harus mengetahui dari mana simbol itu berasal, siapa yang membuatnya, dan tujuannya apa.
Jadi kita tak bisa langsung berkesimpulan bahwa karena ada gambar tengkorak, maka bendera itu adalah bendera penjahat. Tengkorak yang ada di frame bendera one piece adalah bentuk dari satu kesatuan tanda simbolik yang maknanya harus ditanyakan kepada yang membuatnya dan atau yang menggunakannya.
Pimpinan MPR melarang pengibaran bendera One Piece, karena dianggap memprovokasi untuk jatuhkan pemerintah.
Nah, jadi persoalan kan? Karena ga paham, bendera itu ditafsirkan oleh ‘orang-orang pintar’ di DPR sebagai bendera untuk menjatuhkan pemerintah.
Dalam tulisan sebelumnya, menafsirkan simbol tak bisa serampangan. Pendapat pribadi tak bisa digunakan. Sebab yang tahun makna dari simbol itu hanya yang membuat dan yang menggunakan saja.
Kita tak menafsirkan bahwa warna merah dan putih pada bendera Singapura memiliki makna bahwa orang Singapura menginginkan negerinya di bawah Merah Putihnya Indonesia dibanding di bawah Merahputihbirunya Malaysia.
Menafsirkan simbol ga bisa pake persepsi atau referensi dari pengetahuan yang ada di dalam benak kita sendiri. Untuk mengetahui makna bendera Singapura sebagai sebuah simbil, ya harus tanya dengan pemerintah Singapura, dan tanya pula kepada warga negaranya. Karena mereka yang membuat simbol itu dan mereka yang menggunakannya.
Terkait dengan bendera One Piece sebagai sebuah simbol, bendera itu tak bisa langsung dimaknai sebagai simbol politik. Apalagi dimaknai sebagai simbol untuk menjatuhkan pemerintah. Terlalu gegabah, dan maaf… terlalu tolol.
Sebab bendera itu lahir dari cerita fiktif atau cerita imajinatif. Istilah one piece sendiri adalah simbol yang tak bisa diartikan secara apa adanya. Kalau diterjemahkan apa adanya One Piece berarti satu bagian, satu potongan, satu gigitan.
Tulisannya bukan “peace” ya. Tapi “piece”.
Berbeda misalnya jika bendera yang dikibarkan adalah bendera Amerika Serikat. Bendera itu lahir bukan dari cerita fiksi. Tapi dari latar politik. Kalau ini masih agak bisa disambung-sambungkan ke arah politik.
Karena berasal dari cerita fiksi, maka yang paham dengan maknanya ya si pengarang ceritanya.
Dan ketika bendera itu dipasang di perahu nelayan di pantai indah kapuk, atau di truk-truk diesel yang tiap hari kesel harus antri diesel, ya mestinya ditanya kepada mereka! Apakah mereka ingin menjatuhkan pemerintah dengan perahu dan truck dieselnya, atau sekedar menyampaikan pesan melalui simbol yang terinspirasi dari bendera cerita anime yang diciptakan oleh Eiichiro Oda.
Lah Eiichieo Oda bikin bendera bertujuan untuk menghibur, Kok Anda menafsirkan bendera itu untuk menjatuhkan pemerintah? Gimana sih Pak Dewan?
Nah ini adalagi pernyataan Sufmi Dasco Ahmad yang terlalu politis. Beliau mengatakan pengibaran bendera one piece adalah gerakan sistematis untuk memecah belah persatuan bangsa.
Coba perhatikan diksi-diksi yang digunakan Guys. “Gerakan”, “sistematis” “memecah belah” “persatuan bangsa”. Pasang bendera yang terinspirasi dari film fiksi dia sebut gerakan sistematis. Kalau ditanya balik pasti planga-plongo. Oke, kalau gerakan, lalu siapa yang menggerakkan? Tokohnya siapa? Organisasi pergerakannya apa? Kapan berdirinya organisasi itu? Di mana?
Ayo coba jawab! Pasti ga punya data dan faktanya. Artinya, statemen itukan statemen yang waton njeplak ya? Asal bunyi.
Statement asal-asalan kayak gini selalu berasal dari cara berpikir yang asal-asalan. Dan orang yang suka berpikir asal-asalan seperti inilah yang selalu bikin kacau negeri ini.
Hasilnya: Waton blokarblokir rekening orang! Waton nembaki anak buah sendiri! Waton angkat komisaris untuk BUMN ini dan BUMN itu yang kalau gak korupsi ya rugi. Russak!
Makanya sudah saatnya kita perlu mengkritisi cara berpikirnya. Kata demi kata. Agar kita tahu ada apa sebenanrnya isi kepala para pemimpin bangsa ini? Wkwkwk.
Trus diksi memecah belah persatuan bangsa. Memecah belah? Kayak apa gerakan pecah belah nya? Ngajakin masyarakat untuk benci dengan orang bersuku san beragama lain? Di mana aktivitas tersebut dilakukan? Apakah ada “kader one piece” yang terlibat di dalamnya?
“Kader one piece”
Wkwkwk.
Lalu, yang dipecah belah persatuan bangsa? Pake apa memecah belahnya? Pake bendera? Lha kalau bendera bisa bikin pecah belah, saat pemilu partai partai, kelian pasang aneka rupa bendera, persatuan bangsa kita fine-fine aja sampe sekarang tuh?
Kalaupun kemudian persatuan bangsa dipecah belah, lalu dipecah belah menjadi apa? Menjadi negara-negara sendiri? Atau yang satunya jadi negara bajak laut, satunya jadi negara bajak sawah?
Lho lha jadi bingung tho??
Makanya! Hahaa
Baca tanda aja sudah salah. Gimana kelian bisa urus tanda-tanda rakyat lagi pusing ga bisa dapat kerja dan pusing ga punya uang untuk bayar uang semesteran kuliah anaknya!
Ngene lho, Dab…
Bendera One Piece itu tidak berasal dari gerakan atau organisasi politik. Ia hanya berasal dari cerita fiksi, cerita imajinatif. Bendera one piece itu jauh berbeda dengan bendera berkain merah bergambar palu arit.
Jangan dibawa-bawa ke ranah ke ranah politik.
Lahian, bagi pembuatnya, Eiichiro Oda, bendera One Piece hanyalah atribut kecil dari sebuah cerita fiktif. Cerita hiburan.
Saya yakin tak ada maksud politik di balik bendera itu!
Nah sekarang tinggal ditanya kepada yang memasangnya, apa makna masyarakat terdorong untuk memasang bendera one piece? Jangan-jangan pemasangan bendera itu adalah sebuah harapan semoga ada tokoh seperti Monkey D. Luffy yang memimpin sekelompok bajak laut yang baik untuk menyelamatkan mereka.
Hanya harapan! Harapan itukan cita-cita. Cita-cita itukan doa. Doa itu kan gagasan. Gagasan itukan pikiran. Masak orang ga boleh berharap, ga boleh bercita-cita, ga boleh berdia, ga boleh menggagas, ga boleh berpikir?
Nah, untuk mewakili harapan itu diadopsi lah simbol ONE PIECE itu. Mereka sudah malah berharap dengan institusi yang ada di negeri ini. Lebih baik berharap kepada “imam mahdi” “ratu adil” “joko lelono”
Mereka tahu, institusi yang ada tak bisa lagi menjadi tempat untuk menitikan harapan dan cita. Sebab, semua institusi negeri ini sudah terlalu lama dibajak dan dikendalikan oleh koruptor berkepala batu, yang “demi persatuan dan kesatuan bangsa”, mereka akan lakukan apa saja.
Bangsa? Bangsa apa? Bangsa penyamun?
Berkahselaloe
Oleh: Beni Sulastiyo
